Senin 21 Dec 2015 21:52 WIB

Musim Dingin Perparah Rumah Karavan Warga Palestina

Rep: Gita Amanda/ Red: Agung Sasongko
Rumah Karavan Gaza
Rumah Karavan Gaza

REPUBLIKA.CO.ID, KHUZAA -- Yousef al-Najjar, salah satu warga miskin di Gaza, menyaksikan rumah daruratnya semakin terendam lumpur. Sementara lantai pelapisnya yang tipis mulai retak. Hujan di akhir musim gugur bulan lalu, memperparah kondisi tempatnya bermukim tersebut.

Rumah Najjar merupakan satu dari 70 rumah semi permanen di Khuzaa. Rumah-rumah karavan statis itu dibangun dengan tujuan solusi sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal mereka pada perang Israel di Gaza.  

Najjar kini dirundung kekhawatiran, bahwa suhu dingin dan peningkatan curah hujan akan membuat rumahnya menjadi tak layak huni. Daerah di Khuzaa menurutnya lebih rendah daripada daerah lain.

"Kita hidup dalam situasi yang mengerikan. Saat hujan, air mengendap di sini," ujar ayah dari tiga anak itu kepada Aljazirah.

Dari waktu ke waktu menurut Najjar karavan mereka mulai bergeser. Udara luar jadi lebih mudah masuk ke dalam. Sehingga jika panas mereka akan semakin panas pun sebaliknya saat udara dingin mereka semakin dingin.

"Kami disediakan pemanas, tapi mereka tak berfungsi. Tahun lalu, kami hampir mencoba menyalakan api di dalam karavan, tapi tidak jadi. Kami tahu itu tak aman. Bagaimana jika kita tertidur dan itu menyebabkan kebakaran," ujar Najjar.

Najjar berharap ia bisa menerima bantuan dana untuk membangun kembali rumahnya yang semain rusak. Najjar dan keluarganya telah mengalami sejumlah masalah kesehatan akibat kondisi tempat tinggalnya itu.

Ia misalnya menderita sejumlah penyakit  mulai dari kebutaan, hipertensi hingga insomnia. Anaknya yang berusia tiga tahun, Ahmed, memiliki kondisi genetik yang membuatnya lumpuh.

Ibu Najjar yang berusia 83 tahun mengalami kebutaan dan alzheimer. Najjar khawatir musim dingin di rumah daruratnya akan memperburuk kondisi kesehatan mereka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement