Kamis , 07 December 2017, 17:30 WIB

Pedoman Bertani Warisan Peradaban Islam

Rep: c63/Desy Susilawati/ Red: Agung Sasongko
dok. Republika
kebun kurma
kebun kurma

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seiring bergulirnya ‘’Revolusi Hijau’‘, aktivitas pertanian berkembang begitu pesat di era keemasan Islam. Hal itu mendorong perhatian dan minat dari para ilmuwan Muslim untuk mengembangkan sektor pertanian sebagai penopang utama perekonomian kekhilafahan Islam. Apalagi, saat itu pembangunan di sektor pertanian mendapat perhatian dan dukungan dari para penguasa Islam.

Perekonomian di dunia Islam makin menguat didukung berkjembangnya sektor pertanian. Inilah yang membuat pertanian menjadi bagian penting dari kekuasaan dan kejayaan Islam di masa keemasan. Guna memperkuat dan terus mengembangkan sektor pertanian, para ilmuwan pun mengembangkan berbagai dasar-dasar ilmu pertanian (‘ilm alfilaha). Salah satu buku pertanian yang penting dan muncul di era keemasan Islam adalah Kitab Al-Filaha Al- Nabatiyyakarya Ibn Wahsyiyya. Kitab itu ditulis sang insinyur pertanian Muslim pada tahun 904 M di Irak.

Ibnu Wahsiyya menulis buku modul petunjuk bertani itu didorong oleh kecintaaannya terhadap pertanian. Ia sangat konsen untuk melestarikan tradisi agrikultur orang-orang Nabatiya di Mesopotamia. D Fairchild Ruggles dalam bukunya bertajuk Islamic Gardes and Landscapesmenjelaskan, Kitab Al- Filaha Al-Nabatiyyaberisi tentang petunjuk pertanian. Di dalamnya dijelaskan secara rinci dan jelas mengenai tata cara bertani, irigasi teknik, tumbuhan, fertilisasi, kultivasi, dan lainnya tentang pertanian.

Tak hanya itu, buku ini juga merupakan acuan bagi masyarakat Muslim untuk bertani yang baik. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu Bakar Ahmad. Buku ini juga dialihbahasakan serta diterbitkan Fuat Sezgin, salah seorang ilmuwan dari Universitas di Jerman. Buku terkemuka lainnya tentang ilmu pertanian telah diterbitkan ilmuwan Muslim di Spanyol pada abad ke-11 M dan ke-12 M. Buku-buku tersebut di antaranya karya Ibnu al-Hassal dan Ibnu al-Awwam. Beberapa buku-buku iitu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol dan bahasa Latin. Buah pemikiran sarjana Muslim itu telah menjadi inspirasi bagi para sarjana pertanian di Barat.

Mereka mengembangkan pertanian di Barat dengan panduan yang ditulis para sarjana Muslim. Selama abad ke-11 M para ahli agronomi Muslim di Spanyol melakukan sebagian riset dan eksperimen di Taman Botani di Seville dan Toledo. Kebun yang digunakan untuk eksperimen ini meruipakan kebun pertama dari kebun-kebun sejenis. Kemudian ditiru oleh Barat pada abad ke-16 di kota Italia Utara.