Rabu , 13 September 2017, 20:01 WIB

Ini Tantangan Komunitas Muslim di Jerman

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko
islamonline
Muslim Jerman
Muslim Jerman

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Seorang akademisi keturunan Suriah kelahiran Jerman, Lamya Kaddor, Islam di tengah masyarakat Suni Suriah bersifat "konservatif dan terbuka." Mereka terbiasa hidup di tengah masyarakat multiagama. "Hal ini karena komposisi agama-agama di Suriah.

"Ada banyak agama berbeda, Kristen, Drize, Alewites, dan Syiah. Agama tidak pernah dikedepankan. Mereka sangat toleran," kata Kaddor dalam sebuah wawancara. Kaddor yakin Muslim Suriah dapat mengintegrasikan diri dengan mudah di tengah-tengah komunitas Muslim Jerman.

Sebagian pihak masih menyimpan kekhawatiran terhadap radikalisasi yang mungkin akan menguat di tengah masyarakat, mengingat masuknya orang-orang yang tidak familiar dengan nilai-nilai Barat. Pemuda-pemuda migran yang masih gegar rawan menjadi incaran kelompok radikal. Namun, Kementerian Dalam Negeri menepis hal itu. Mereka menegaskan proporsi hal itu sangat kecil dan tidak ada alasan untuk khawatir.

Menurut pengamat Islam dari Bertelsmann Foundation, Yasemin El Menouar, risiko ini juga tereliminasi oleh fakta bahwa banyak pengungsi itu melarikan diri dari kelompok-kelompok radikal di Suriah atau Irak.

"Mereka yang hidup di tengah kekejaman rezim Bassar Al Assad atau ISIS tidak ingin mendengar pembicaraan tentang pejuang Islam," kata Khorcide. Ia berpendapat, tantangan utama terletak pada integrasi sosial para pengungsi.

Sejauh ini Pemerintah Merkel menyatakan penerimaan yang baik terhadap imigran Muslim. Ia berulang kali mengingatkan para pengungsi untuk menghormati prinsip-prinsip kebebasan masyarakat dan supremasi hukum. Merkel juga mendesak sesama warga untuk menunjukkan toleransi bagi umat Islam. "Islam telah menjadi bagian dari Jerman," kata Kanselir Jerman itu.

Namun, mengingat gerakan antimigran pernah memenangkan kursi di beberapa pemilu legislatif pada 1990-an setelah Jerman menerima gelombang pengungsi, Thomas Volk menyarankan Merkel harus memulai debat publik yang luas untuk melawan prasangka terhadap Muslim. "Kami harus berhati-hati. Kelompok populis bisa mengubah pengungsi menjadi isu yang menguntungkan mereka," kata dia.

Kala itu, Jerman menampung sejumlah besar pengungsi dari bekas negara Yugoslavia yang dilanda perang. Teriakan garang partai sayap kanan baru redup dengan adanya hukum suaka pada tahun 1993.