Jumat , 11 Agustus 2017, 20:20 WIB

Tokyo Camii, Simbol Keterbukaan Jepang Terhadap Islam

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
TokyoCamii
Tokyo Camii
Tokyo Camii

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Tokyo Camii atau Masjid Tokyo dianggap menjadi salah satu pemandangan yang cukup unik di ibu kota Jepang itu. Pasalnya, meski dirancang dengan gaya arsitektur khas Turki, keberadaan bangunan ibadah nan megah itu tampak sedikit tersuruk di antara belantara gedung pencakar langit dan blok-blok apartemen yang tenang di kawasan Yoyogi Uehara.

Pemugaran Tokyo Camii secara resmi rampung pada 2000 lalu. Namun, pembangunan awal masjid itu sesungguhnya mempunyai sejarah yang panjang.

Sekira dekade 1930-an, ketika populasi Muslim di Jepang mengalami peningkatan yang signifikan, mulailah beberapa masjid didirikan di negeri sakura itu untuk pertama kalinya.

Di antaranya Masjid Nagoya yang dibangun pada 1931, lalu disusul Masjid Kobe empat tahun berikutnya. Kedua masjid tersebut dibangun oleh komunitas Muslim pendatang asal India.

Selanjutnya, para imigran Tatar yang melarikan diri dari Revolusi Bolshevik Rusia membentuk kelompok etnis Muslim terbesar di Jepang. Mereka lalu mendirikan Masjid Tokyo dalam bentuk aslinya pada 1938. Inilah titik awal dari pembangunan Tokyo Camii yang ada sekarang.

Salah seorang guru besar studi Jepang dari Universitas Heidelberg, Hans Martin Kramer, menganggap pendirian Tokyo Camii sebagai simbol keterbukaan Jepang terhadap Islam ketika itu.

Sebagai bukti, pembangunan awal masjid itu tidak hanya didukung oleh pemerintah Jepang, tetapi juga didanai oleh perusahaan-perusahaan swasta di negeri matahari terbit, terutama Mitsubishi.

“Bahkan, upacara pembukaannya dihadiri pula oleh sejumlah pejabat dan diplomat dari Jepang dan Dunia Islam,” kata Kramer seperti dikutip majalah bulanan Muslim Ink dalam artikel “From Two Mosques to 200: Growth of Islam in Japan”.

Pengelola Islamic Center of Japan (ICJ) Dr Musa Omer menuturkan, hingga 1970, hanya ada dua bangunan masjid di Tokyo. Kini, di kota itu terdapat 200 masjid, mushala, dan tempat-tempat lainnya yang secara temporer dapat digunakan sebagai tempat shalat. “Jumlah bangunan ibadah ini terus meningkat seiring bertambahnya jumlah umat Islam di Tokyo,” ujarnya.

Pernikahan

Menurut Omer, pernikahan termasuk faktor penyumbang peningkatan populasi Muslim di Jepang. Seperti yang terjadi pada November tahun lalu, misalnya, ketika Omer dipercaya membantu menyelenggarakan pernikahan seorang pria Muslim asal Arab Saudi dengan perempuan asli Jepang. Si pengantin wanita akhirnya memilih untuk masuk Islam setelah dua tahun menjalin hubungan dengan laki-laki tersebut.

Saat ini, kata Omer, jumlah warga Muslim yang tinggal di Jepang diperkirakan mencapai 120 ribu jiwa. Sekira sepuluh persen dari mereka adalah orang Jepang asli. Angka tersebut memang masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total penduduk Jepang yang sekarang berjumlah 127 juta jiwa.