Senin , 20 November 2017, 13:00 WIB

Antusias dalam Kebaikan

Red: Agung Sasongko
blog.science.gc.ca
Takwa (ilustrasi).
Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Arifin Ilham


"Dan bagi setiap orang ada me miliki arah yang dituju ke arah mana dia meng hadap kan wajahnya. Maka berlomba-lom ba lah kamu dalam berbuat kebaikan. Di ma na saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Se sungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS al-Baqarah: 148). Ayat ini meminta kita supaya tegak dan teguh (baca: istiqamah) dalam melakukan kebaikan. Tentu tidak seka dar istiqamah, tetapi terus ber upaya untuk saling mengungguli dan meng ikhtiarkan diri menjadi pemenang dalam meniti kebaikan.

Saat kita berada di depan dalam kebaikan, percayalah bahwa kita sedang berjalan menuju tempat orangorang terbaik. "Sesungguhnya orangorang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaikbaik makhluk." (QS al-Bayyinah [98]: 7).

Suatu ketika para sahabat yang kurang mampu mengeluh di hadapan Rasulullah SAW. "Ya Rasulullah, se ba gaimana kami melakukan shalat, se perti itulah orang-orang kaya mela kukan shalat. Kami berpuasa, mereka yang kaya pun juga berpuasa. Kami ikut berjihad, mereka sama juga ikut berjihad. Namun, ya Rasulullah, ada pekerjaan lebih yang mereka kerjakan. Mereka memberikan sedekah di mana kami yang karena ketidakmampuan kami tidak dapat melakukan itu. Beritahukanlah kepada kami suatu hal yang dengan melakukan itu kami dapat menutupi kekurangan itu."

Beliau SAW bersabda, "Setiap selesai shalat, bacalah subhanallah 33 kali dan 33 kali alhamdulillah dan 34 kali Allahuakbar." Sahabat papa ini sangat gembira bahwa kini ia punya kesempatan untuk mengungguli kebaikan-kebaikan filantropis para hartawan. Mereka mulai mengamalkan sesuai dengan cara ini, tetapi sesudah beberapa hari, orang-orang kaya juga mengetahui akan cara ibadat seperti itu dan mereka juga mulai membaca tasbih dan pujian seperti itu.

Akhirnya, sahabat Nabi yang haus kebaikan ini kembali mengeluh di hadapan Rasulullah SAW bahwa orangorang kaya pun kini mulai melakukan amal yang sama juga dan mereka menyusulnya. Dan Nabi pun menutup nasihat bijaknya, "Apabila Allah memberikan taufik kepada seseorang untuk melakukan kebaikan maka bagaimana saya bisa mencegahnya?"

Amazing! Perhatikanlah bagaimana para sahabat demikian semangatnya berlomba-lomba dalam kebaikan. Dari kalangan pebisnis, hartawan, dan yang tak berpunya sekalipun berusaha untuk selalu unggul dalam kebaikan. Kemudian, perhatikanlah bagaimana Allah menghargai kebaikan-kebaikan mereka, baik secara personal sebagai individu maupun berjamaah atau keduaduanya. "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan." (QS ar-Rahman [55]: 60). Wallahu a'lam.

Berita Terkait