Kamis 20 Aug 2026 07:09 WIB

Jelang Muktamar NU, Ulama Perempuan Diusulkan Masuk AHWA

Forum AHWA dinilai punya posisi strategis dalam pengambilan keputusan pada muktamar.

Jamaah Nahdlatul Ulama saat menghadiri acara Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakata, Rabu (5/2/2025). Pada Puncak Peringatan Hari Lahir NU yang ke-102 ini mengangkat tema Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para menteri dari Kabinet Merah Putih, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Agus Subiyanto.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Jamaah Nahdlatul Ulama saat menghadiri acara Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakata, Rabu (5/2/2025). Pada Puncak Peringatan Hari Lahir NU yang ke-102 ini mengangkat tema Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para menteri dari Kabinet Merah Putih, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Agus Subiyanto.

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG — Jaringan Nahdlatul Ulama Kultural (Janur) mendorong agar ulama perempuan diberi kesempatan menjadi anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Penggerak Janur Aan Anshori mengatakan, forum AHWA memiliki posisi strategis dalam struktur pengambilan keputusan NU, khususnya dalam menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Baca Juga

"AHWA semestinya diisi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam'iyah," kata Aan dalam keterangan tertulis di Jombang, Rabu(19/8/2026).

Ia menegaskan, mekanisme AHWA yang digunakan sejak Muktamar Ke-35 NU ini perlu dikaji kembali karena seluruh anggota AHWA yang terpilih selama ini merupakan laki-laki. Padahal, ujar dia,  tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyatakan anggota AHWA harus laki-laki.

Dia menilai, NU memiliki tradisi panjang dalam melahirkan ulama perempuan yang berkontribusi dalam pendidikan pesantren, pelayanan sosial, pengembangan pemikiran keislaman, dan kehidupan kebangsaan.

Aan mengatakan setidaknya ada dua ulama perempuan yang dinilai memiliki kualifikasi untuk menjadi anggota AHWA, yakni Nyai Dr (HC) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid.

Dia berpendapat, Sinta Nuriyah memiliki rekam jejak panjang dalam menyuarakan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kehidupan beragama yang inklusif. Sinta Nuriyah, istri Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga pernah menjadi bagian dari kepengurusan Mustasyar PBNU dalam beberapa periode.

photo
Sejumlah santri menunggu kedatangan Presiden Perbowo Subianto saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syachona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Munas dan Konbes tersebut diantaranya memutuskan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU pada 1-5 Agustus 2026 dengan lokasi yang masih menunggu keputusan resmi PBNU. - (ANTARA FOTO/Moch Asim)

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi