Senin 10 Aug 2026 09:17 WIB
Lipsus 17 Agustus

Kala Pesantren Membangun Kedaulatan Air

Daulat air tak dimulai dari pabrik besar, tapi dari berani penuhi kebutuhan sendiri.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Sejumlah santri pengabdian melakukan proses produksi air minum dalam kemasan Ointika di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, Selasa (28/7/2026). Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman memproduksi air minum hexagonal Ointika menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Dalam satu kali proses produksi, pabrik air minum dalam kemasan Ointika mampu menghasilkan sekitar 2.000 hingga 3.000 botol air kemasan berukuran 600 mililiter dan 330 mililiter. Produk tersebut saat ini masih dipasarkan secara terbatas, sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di lingkungan pondok pesantren dan kegiatan internal pesantren. Produksi air dalam kemasan Ointika ini menjadi salah satu unit usaha pesantren yang melibatkan santri pengabdian dalam proses produksi sekaligus mendukung kemandirian ekonomi pesantren.
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah santri pengabdian melakukan proses produksi air minum dalam kemasan Ointika di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, Selasa (28/7/2026). Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman memproduksi air minum hexagonal Ointika menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Dalam satu kali proses produksi, pabrik air minum dalam kemasan Ointika mampu menghasilkan sekitar 2.000 hingga 3.000 botol air kemasan berukuran 600 mililiter dan 330 mililiter. Produk tersebut saat ini masih dipasarkan secara terbatas, sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di lingkungan pondok pesantren dan kegiatan internal pesantren. Produksi air dalam kemasan Ointika ini menjadi salah satu unit usaha pesantren yang melibatkan santri pengabdian dalam proses produksi sekaligus mendukung kemandirian ekonomi pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Jarum jam baru melewati pukul 12.30 WIB. Terik matahari menyelimuti Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Kabupaten Bogor. Dari berbagai penjuru kompleks pesantren, ribuan santri bersarung bergegas menuju masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur berjamaah. Sebagian lainnya masih mengantre di tempat wudhu.

Tak lama setelah salam terakhir berkumandang, suasana pesantren kembali bergeliat. Santri bersiap makan siang dan belajar lagi. Berbeda dengan aktivitas mayoritas santri, lima santri justru melangkah ke sebuah bangunan yang tak jauh dari masjid. Di pintu masuk bangunan itu tampak tulisan: "Selamat datang di pabrik air minum dalam kemasan Nurul Iman: Ointika (hexagonal reverse osmosis)"

Baca Juga

Di dalam bangunan itu, denyut nadi salah satu unit usaha pesantren berdetak setiap hari. Di dinding bangunan itu juga tertera pesan pendiri pesantren: "Orang yang minum Ointika, perempuan dia akan cantik dan laki-laki akan ganteng". 

Kelima santri berpeci putih itu tampak mengenakan masker, sarung tangan karet, lalu berdiri melingkar di dekat mesin produksi. Sebelum tombol mesin ditekan, seorang santri memimpin doa. Lantunan shalawat memenuhi ruangan yang tampak higienis itu. "Kita memang diajarkan Abah untuk membaca doa dan shalawat sebelum memproduksi. Biar airnya tambah berkah," ujar Malik Albana (21) , santri asal Citayam, Bogor, kepada Republika, Selasa (28/7/2026). 

Doa selesai. Mesin mulai bekerja. Botol-botol kosong bergerak perlahan memasuki jalur produksi. Air hasil penyaringan reverse osmosis mengalir memenuhi setiap botol, sebelum ditutup rapat dan diberi label OINTIKA. Di tangan para santri itulah ribuan botol air diproduksi setiap hari. Namun, bagi Malik, pekerjaan itu bukan sekadar mengisi botol. Ia sedang belajar menjadi seorang wirausahawan.

photo
Suasana Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, Selasa (28/7/2026). - (Republika/Prayogi)

Rutinitas Malik dimulai jauh sebelum matahari terbit. Pukul tiga dini hari, seluruh santri sudah diwajibkan bangun. Mereka mempersiapkan sholat Subuh, menghafal Alquran, berzikir, hingga mengikuti berbagai aktivitas yang telah ditentukan pesantren.Yang dipelajari di sini bukan hanya ilmu agama,”kata dia.

Malik tampak bersemangat ketika menceritakan bagaimana almarhum Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar, pendiri pesantren, mendidik para santri. Menurut dia, bahkan cara berjalan pun menjadi bagian dari pendidikan. Suatu ketika, Habib Saggaf melihat seorang santri berjalan sambil menyeret sandal. Santri itu langsung ditegur.

"Abah bilang, kalau berjalan seperti itu, pertama tidak baik untuk kesehatan karena debu beterbangan dan bisa terhirup orang lain. Kedua, tidak baik secara ekonomi karena sandal cepat rusak," kata Malik.

Pelajaran sederhana itu membekas hingga sekarang. Di Nurul Iman, katanya, pendidikan tidak berhenti pada kitab kuning atau ruang kelas. Cara membuka keran air, menjaga kebersihan, hingga mengelola usaha pun menjadi bagian dari pembentukan karakter."Itu yang menurut saya membedakan pesantren ini dengan yang lain,”ujar dia.

photo
Sejumlah santri pengabdian melakukan proses produksi air minum dalam kemasan Ointika di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, Selasa (28/7/2026). - (Republika/Prayogi)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi