REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan independensi NU dari kepentingan politik praktis.
Ia membantah adanya campur tangan Presiden maupun Istana dalam dinamika organisasi menjelang muktamar.
"Saya tidak melihat kepentingan presiden atau istana untuk mempengaruhi atau cawe-cawe terkait dengan NU. Tidak ada gunanya bagi pemerintah dan presiden," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Karena itu, Gus Yahya meminta warga NU tidak mudah percaya terhadap pihak-pihak yang mengklaim mendapat restu atau bahkan perintah dari Presiden untuk kepentingan muktamar.
"Kalau ada yang mengklaim bahwa dia misalnya direstui bahkan diperintah oleh presiden, pasti bohong," ucapnya.
Gus Yahya menambahkan, sejak berdiri NU dikenal sebagai organisasi yang mandiri sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh isu-isu yang tidak relevan.
"Presiden saya yakin sangat menghormati NU," kata Gus Yahya.
Dalam kesempatan itu, ia pun memastikan Muktamar Ke-35 NU siap digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
Muktamar kali ini akan membahas agenda strategis yang tidak hanya menyangkut masa depan organisasi, tetapi juga kepentingan bangsa dan kemaslahatan umat manusia.