Rabu 24 Jun 2026 14:53 WIB

Haji 2026, Momentum Refleksi Diri

Ingatan saya langsung melintas pada kenangan akan almarhum ayah.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji mendata jamaah calon haji yang akan memakai jasa pendorong kursi roda di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Ahad (3/5/2026). Kementerian Haji dan Umrah mengimbau jamaah untuk menggunakan jasa petugas pendorong kursi roda resmi demi keamanan serta kepastian harga dengan tarif yang telah ditetapkan sebesar 300 riyal Arab Saudi (SAR) untuk masa pra puncak haji dan 350 SAR pada pasca puncak haji.
Foto: ANTARA FOTO/Citro Atmoko
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji mendata jamaah calon haji yang akan memakai jasa pendorong kursi roda di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Ahad (3/5/2026). Kementerian Haji dan Umrah mengimbau jamaah untuk menggunakan jasa petugas pendorong kursi roda resmi demi keamanan serta kepastian harga dengan tarif yang telah ditetapkan sebesar 300 riyal Arab Saudi (SAR) untuk masa pra puncak haji dan 350 SAR pada pasca puncak haji.

Oleh: Laporan Jurnalis Republika Fernan Rahadi dari Madinah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, Alhamdulillah, pada Selasa (23/6/2026) malam tercapai salah satu nazar saya pada masa tugas di penyelenggaraan haji tahun 2026, yakni mengkhatamkan Alquran. Sebagai rasa syukur, saya pun membuat perayaan kecil-kecilan dengan memakan nasi biryani bersama rekan-rekan satu kamar yang sama-sama tergabung dalam tim petugas Media Center Haji (MCH) Daker Madinah. Meskipun harga nasi di Madinah sedikit mahal, bagi saya yang terpenting adalah menjaga kebersamaan di dalam tubuh tim.

Selain alasan menunaikan ibadah, tak bisa dipungkiri kebersamaan dengan sesama petugas haji memang jadi salah satu alasan tim MCH Madinah, yang tahun ini berjumlah 20 orang, untuk bisa bertahan di Tanah Suci di tengah kerinduan pada keluarga di Tanah Air. Oleh karena itu, kekompakan dengan tim harus selalu dijaga karena bagaimanapun merekalah yang menjadi 'keluarga' kami selalu berada di sini.

Baca Juga

Terkadang, percikan konflik mewarnai perjalanan kami selama dua setengah bulan di sini. Hal tersebut tentunya tak akan bisa dihindari mengingat kami berdua puluh berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Meskipun sebagian besar dari kami berstatus sebagai jurnalis, tetap saja perbedaan kerap mengemuka di antara kami. Tak jarang, perdebatan yang tak menemukan titik temu terjadi di antara kami.

Mungkin karena penugasan kali ini bertempat di Tanah Suci, yakni Madinah dan Makkah, sehingga sebesar apa pun tantangan yang kami hadapi di sini alhamdulillah sejauh ini selalu bisa teratasi dengan baik. Kuncinya adalah bagaimana sebuah tim bisa menjaga agar masing-masing personelnya memiliki pengendalian diri yang baik serta mau menyingkirkan ego pribadi maupun ego sektoral. Oleh karena itu, peran seorang pemimpin sebenarnya sangat krusial untuk bisa membuat timnya bersatu dan menyingkirkan berbagai perbedaan.

photo
Jamaah haji dari berbagai negara melaksanakan Tawaf Wada mengelilingi Kabah, Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Selasa (9/6/2026). Pelaksanaan tawaf perpisahan tersebut menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah haji sebelum para jamaah meninggalkan Makkah menuju ke negara asal. - (ANTARA FOTO/Citro Atmoko)

Saya pun meyakini, berbagai konflik yang ada merupakan ujian dari Allah SWT. Seberapa besar usaha kita agar benar-benar menjadi haji yang mabrur? Bila konflik di Tanah Suci saja tidak bisa kita tangani bagaimana mungkin kita bisa menangani persoalan-persoalan lain di berbagai belahan bumi? Saya pun selalu mencamkan hal itu tiap kali percikan konflik terjadi.

Momentum refleksi

Pengalaman pada penyelenggaraan haji 2026 ini pun menjadi momen refleksi diri bagi diri saya pribadi. Dalam beberapa momen bersentuhan dengan jamaah haji, saya sering mendapatkan sebuah 'tamparan keras'. Contoh suatu kali saya bertemu dengan pasangan suami-istri muda di sebuah restoran Indonesia. Melihat gaya mereka yang cukup parlente, saya awalnya berpikir bahwa keduanya merupakan jamaah umrah atau jamaah haji khusus.

Namun tak disangka ternyata keduanya adalah jamaah haji reguler yang menggunakan jalur mandiri. Ditanya alasan mereka sangat royal selama di Tanah Suci, sang istri memberikan jawaban yang cukup menohok. "Kalau di Tanah Air saja kita bisa beli mobil atau barang-barang mewah lain, masa kita di Tanah Suci justru berhemat," kata wanita asal Jember tersebut.

Pengalaman lain yang membuat saya terharu adalah saat mewawancarai jamaah haji yang menggantikan ayahnya. Saya kebetulan mewawancarai dua orang di mana salah satunya menjadi jamaah termuda karena masih berusia 13 tahun. Saat ditanya tentang motivasinya berhaji, salah satu jamaah tersebut berkata meniatkan semua ibadahnya untuk almarhum sang ayah. 

Ingatan saya pun langsung melintas pada kenangan akan almarhum ayah saya. Semoga Allah SWT dan para malaikatnya selalu menjaganya di alam kubur.

Ketika ribuan jamaah haji yang berbondong-bondong datang ke Tanah Suci meniatkan ibadah untuk memohon doa bagi dirinya dan keluarganya, semoga mereka tidak melupakan doa untuk orang tua mereka. Termasuk doa bagi orang-orang terdekat yang sudah mendahului mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement