REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasulullah SAW bersabda, "Setelah Fathu Makkah (penaklukan Mekkah), tidak ada lagi hijrah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat" (HR Bukhari).
Tahun baru Hijriah adalah salah satu momentum penting bagi kita umat Nabi Muhammad SAW untuk mengintrospeksi diri. Apakah kita benar-benar telah berhijrah? Apakah hari ini kita telah menjadi lebih baik daripada hari-hari kemarin?
Jadi, lebih penting daripada sekadar memperingati dan merayakan Tahun Baru Islam dengan berbagai acara adalah melihat ke dalam diri kita sendiri. Apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita perbuat agar menjadi lebih baik lagi.
Pada hadis di atas, Rasulullah SAW mengisyaratkan, hijrah dalam pengertian eksodus dari satu tempat ke tempat lain karena alasan tertentu. Ini seperti yang dilakukan oleh beliau dan umat Muslim yang berhijrah dari Makkah ke Madinah, dan sebelumnya ke Habasyah.
Sesudah itu, hijrah dalam pengertian demikian tidak ada lagi. Yang ada ialah jihad dan niat.
Jihad secara bahasa, seperti ditulis Yusuf Qardhawi dalam kitab Fiqh Jihad, berarti mencurahkan segala usaha, kemampuan, dan tenaga. Adapun niat secara bahasa berarti qashd, yakni keinginan, kehendak, cita-cita, dan harapan akan sesuatu.
Kata jihad dalam Alquran biasanya diiringi dengan kata fi sabilillah, yakni di jalan Allah. Ini berarti, jihad itu mestilah berada dalam koridor ajaran-ajaran Allah dan diorientasikan untuk mendapatkan keridhaan-Nya.
View this post on Instagram