Jumat 03 Jul 2026 16:25 WIB

Banyak Muslim Mulai Melupakan Kalender Hijriah, Ini Dampaknya bagi Identitas Umat

Kalender tersebut menjadi pengingat atas perjalanan sejarah umat.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Petugas melakukan pemantauan hilal di Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Ahad (17/5/2026). Kementerian Agama (Kemenag) melaksanakan pemantauan hilal awal Zulhijah 1447 Hijriah di 88 titik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menentukan awal Zulhijah sekaligus menetapkan pelaksanaan Iduladha 1447 H.
Foto: Republika/Prayogi
Petugas melakukan pemantauan hilal di Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Ahad (17/5/2026). Kementerian Agama (Kemenag) melaksanakan pemantauan hilal awal Zulhijah 1447 Hijriah di 88 titik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menentukan awal Zulhijah sekaligus menetapkan pelaksanaan Iduladha 1447 H.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Di tengah dominasi kalender Masehi dalam kehidupan sehari-hari, banyak Muslim mulai jarang menggunakan kalender Hijriah di luar kepentingan ibadah. Padahal, kalender Hijriah bukan sekadar sistem penanggalan, melainkan salah satu instrumen yang memperkuat identitas, sejarah, dan persatuan umat Islam.

Penyair dan dramawan Muslim terkenal, Shamsid-Deen menekankan upaya menyelaraskan kehidupan dengan kalender Hijriah merupakan bagian dari upaya menjaga keterhubungan umat Islam dengan sejarah, nilai-nilai agama, serta komunitas Muslim di seluruh dunia.

Baca Juga

Menurut dia, Islam sejak awal mengajarkan pentingnya kebersamaan. Berbagai ibadah utama, seperti sholat berjamaah dan ibadah haji, menunjukkan bahwa dimensi kolektif memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam.

Semangat yang sama juga tercermin dalam kalender Hijriah. Melalui penanggalan tersebut, umat Islam di berbagai negara menjalani momen-momen penting secara bersama, mulai Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, hingga Asyura.

"Melalui kalender Islam, umat Islam berbagi kepercayaan, nilai-nilai, pengetahuan, dan waktu tanpa harus berada di tempat yang sama," tulis Shamsid-Deen di laman Aboutislam, Jumat (3/7/2026).

photo
Pawai Obor. Anak-anak mengikuti pawai obor dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1439 H di kawasan Cikini, Jakarta, Rabu (20/09). Tanggal 21 September menjadi awal tahun bagi penanggalan kalender 1439 Hijriah. - (Iman Firmansyah)

Ia menjelaskan, kalender Hijriah bermula dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Momentum tersebut menjadi titik balik lahirnya masyarakat Islam yang kemudian berkembang menjadi peradaban besar yang melampaui batas negara, budaya, maupun etnis.

Karena itu, kalender Hijriah dinilai memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penanda pergantian bulan dan tahun. Kalender tersebut menjadi pengingat atas perjalanan sejarah umat sekaligus simbol persatuan kaum Muslim.

Shamsid-Deen juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda Muslim saat ini. Menurut dia, anak-anak dan remaja hidup dalam lingkungan yang dipenuhi berbagai bentuk interaksi global melalui internet dan media sosial. Pengalaman bersama dalam dunia digital mampu membangun rasa memiliki terhadap suatu komunitas.

Dalam konteks tersebut, kalender Hijriah dinilai dapat menghadirkan pengalaman kolektif yang jauh lebih bermakna karena menghubungkan umat Islam di seluruh dunia melalui momentum ibadah dan hari-hari besar yang sama.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi