REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Biaya pelaksanaan ibadah haji musim ini menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok di berbagai negara Arab dan dunia Islam.
Hal itu dipengaruhi oleh tekanan yang berbeda-beda pada harga tiket pesawat, akomodasi, serta layanan logistik.
Meski demikian, sejumlah penyelenggara haji dan biro perjalanan di beberapa negara berupaya menjaga agar biaya tetap dalam batas wajar dan tidak membebani jamaah dengan kenaikan yang terlalu besar.
Data yang dihimpun para koresponden Aljazeera.Net, dikutip Republika.co.id, Senin (18/5/2026), menunjukkan bahwa beberapa negara Arab mengalami stabilitas relatif dalam biaya haji, meskipun terdapat kenaikan pada sebagian komponen perjalanan dan hotel.
Sementara itu, negara-negara lain justru mencatat lonjakan biaya yang cukup signifikan. Berikut penjelasannya:
Maroko
Penerbangan jamaah haji Maroko menuju Tanah Suci terus berlangsung melalui 78 penerbangan, termasuk 69 penerbangan menuju Madinah.
Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Maroko menetapkan biaya akhir haji bagi jamaah reguler pemerintah yang berjumlah 22.200 orang sebesar sekitar 63 ribu dirham Maroko (sekitar 6.878 dolar AS atau sekitar kurang lebih Rp 121 juta dengan kurs rupiah terkini).
Sementara biaya haji melalui biro perjalanan, yang melayani sekitar 11.800 jamaah, berkisar antara 75 ribu dirham (8.189 dolar AS) hingga 160 ribu dirham (17.469 dolar AS atau sekitar Rp 307 juta kurang lebih).
Angka tersebut bahkan bisa lebih tinggi tergantung kedekatan hotel dengan Masjidil Haram dan kualitas layanan yang diberikan.