REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Tanda cinta pada Allah adalah menyukai zikrullah (zikir kepada Allah). Dan tanda benci pada Allah adalah membenci dzikrullah azza wajalla.'' (HR Baihaqi).
Hadis di atas menjelaskan bagaimana kaitan antara zikir dan cinta. Apakah zikir itu bagian dari cinta, atau justru sebaliknya, cinta adalah bagian dari zikir? Cinta merupakan fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap makhluk-Nya. Cinta akan selalu hadir dalam napas manusia. Cinta pula yang kadang menjadikan orang bahagia atau sengsara.
Berbicara serba-serbi cinta, tentu tidak akan ada habisnya. Bahkan, para sastrawan Barat pun kesulitan mengungkap definisi cinta, karena ia begitu relatif dan multimakna, tergantung siapa yang mendefinisikannya. Islam sangat menganjurkan kepada manusia agar mencintai sesama, asalkan cinta tersebut dalam koridor agama dan tidak melebihi cinta kepada Allah SWT.
Ketika seseorang sudah jatuh cinta, ia akan selalu mengingat dan memikirkan yang dicintainya itu. Maka, jatuh cinta kepada Allah adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dielakkan bagi diri setiap Muslim. Dengan cinta kepada Allah, tentu kita akan selalu mengingatnya, yang dalam Islam disebut dengan zikrullah. Karena, zikir merupakan manifestasi cinta seorang hamba kepada Sang Khalik.
Zikir adalah ibadah yang paling dicintai Allah. Zikir merupakan amalan yang paling bersih di sisi-Nya dan sangat tinggi tingkatannya. Lebih dari itu, berzikir juga lebih baik dan afdhal daripada mendermakan emas perak ataupun berlian, serta berperang melawan musuh-musuh Islam (HR Ahmad).
Ketika Rasulullah ditanya oleh sahabatnya, ''Ibadah manakah yang paling utama di sisi Allah ketika hari kiamat?''
Nabi SAW menjawab, ''Orang-orang yang banyak berzikir'' (HR Tirmidzi).




