Sabtu 21 Mar 2026 09:20 WIB

Khutbah Id di BIN: Hati Bersinar Jadi Kunci Integritas Sejati

Khutbah Id menekankan pentingnya integritas dan ketakwaan sebagai cahaya hati.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Friska Yolandha
Sejumlah umat Islam bersiap menunaikan Sholat Idulfitri 1447 Hijriah di kawasan Jatinegara, Jakarta, Sabtu (21/3/2026). Sholat Idulfitri 1 Syawal 1447 H tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketetapan pemerintah pada Sabtu, 21 Maret 2026. Warga Muslim setempat melaksanakan salat di jalanan samping Gereja Koinonia yang didirikan pada 1889 dan menjadi simbol toleransi yang ikonik.
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah umat Islam bersiap menunaikan Sholat Idulfitri 1447 Hijriah di kawasan Jatinegara, Jakarta, Sabtu (21/3/2026). Sholat Idulfitri 1 Syawal 1447 H tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketetapan pemerintah pada Sabtu, 21 Maret 2026. Warga Muslim setempat melaksanakan salat di jalanan samping Gereja Koinonia yang didirikan pada 1889 dan menjadi simbol toleransi yang ikonik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah suasana Idul Fitri yang sarat makna, pesan tentang pentingnya memiliki hati yang bersinar kembali digaungkan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub membagi hati manusia ke dalam empat golongan. Pertama hati yang bersinar (qalbun an-nayyir), kedua hati yang gelap, ketiga hati yang tertutup atau terkunci, dan keempat hati yang di dalamnya terdapat cahaya sekaligus kegelapan.

Hak tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah), KH Masyhuril Khamis saat bertindak sebagai imam dan khatib Sholat Idul Fitri 1447 H pada 1 Syawal 1447 di Badan Intelijen Negara (BIN) Jakarta.

Baca Juga

Kiai Masyhuril mengatakan, di hari yang fitri ini, Imam Ghazali mengingatkan kita bahwa hati yang bersinar adalah sumber integritas sejati, di mana kemampuan membedakan yang hak (benar) dan yang batil (salah) menjadi akarnya. Idul Fitri bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk mengasah ketajaman nurani agar tidak lagi mencampuradukkan kejujuran dengan kebohongan, serta memastikan setiap langkah hidup berdiri tegak di atas prinsip kebenaran yang kokoh.

"Integritas tersebut terpancar melalui disiplin diri yang nyata, yakni menjaga lidah dari dusta, hati dari kedengkian, serta mata dan tangan dari kemaksiatan," kata Kiai Masyhuril di momen Idul Fitri 1447 Hijriyah.

Dalam khutbahnya, Kiai Masyhuril menyampaikan, seseorang yang kembali ke fitrahnya tidak akan mengambil hak orang lain, melainkan justru memperbanyak syukur dengan tangan di atas. Dengan menjaga kaki tetap melangkah di jalan Allah, membuktikan bahwa ketaatan adalah wujud integritas yang terus meningkat sejalan dengan nikmat yang diterima.

Imam Al-Ghazali juga merinci sifat taqwa (hati yang bersinar itu) akan membentuk manusia yang menjaga lidahnya agar tidak berdusta, fitnah, cela dan ghibah. Menjaga hati tidak dengki, hasad, mendendam dan membenci. Memelihara mata dari melihat hal yang dilarang Allah. Menjaga tangannya dari perbuatan maksiat,tidak akan mengambil milik orang lain, malah sebaliknya selalu berada diatas untuk membantu yang kurang mampu. Menjaga kakinya agar tidak melangkah ketempat maksiat, tapi justru semakin rajin berjalan pada jalan-Nya Allah dan Rasulullah SAW. Ketaatannya menunjukkan syukur yang meningkat sejalan dengan bertambahnya nikmat Allah pada dirinya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement