
Oleh: KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah riuhnya siklus ibadah umat Islam, antara euforia Idul Fitri dan gegap gempita Idul Adha, ada satu bulan yang sering luput dari perhatian: Dzulqadah. Ia datang tanpa gegap gempita, tanpa perayaan besar, seolah hanya jeda kosong dalam kalender hijriah. Padahal, justru di situlah letak ujian keimanan: mampukah seorang Muslim tetap menjaga kesadaran spiritual saat suasana tidak lagi ramai oleh dorongan kolektif?
Allah ﷻ telah menegaskan kemuliaan bulan ini dalam firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ
Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indaLlâhi itsnā ‘asyara syahran fī kitābiLlâhi yauma khalaqa as-samāwāti wal-arḍa minhā arba‘atun ḥurum, dzālika ad-dīnul qayyim, falā taẓlimū fīhinna anfusakum.
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS At-Taubah: 36).
Dzulqadah termasuk dalam al-asyhur al-ḥurum (الأشهر الحرم), yakni bulan-bulan suci yang dimuliakan. Dalam bulan ini, dosa dilipatgandakan beratnya, dan amal kebaikan pun dilipatgandakan nilainya. Perspektif ini mengubah cara kita memandang waktu: ia bukan sekadar berlalu, tetapi memiliki bobot moral.
Imam Qatādah mengingatkan:
إِنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً
Inna aẓ-ẓulma fī al-asyhuri al-ḥurum a‘ẓamu khaṭī’atan
“Sesungguhnya kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya.”
Di sini kita belajar bahwa waktu bisa menjadi “pengganda makna”. Kata yang biasa menjadi dosa kecil bisa berubah menjadi besar. Sebaliknya, amal kecil bisa bernilai besar. Dzulqadah adalah ruang sunyi untuk memperbaiki diri tanpa distraksi.
Secara etimologis, Dzulqadah berasal dari kata قَعَدَ (qa‘ada), yang berarti “duduk” atau “berhenti”. Ini bukan sekadar istilah linguistik, melainkan pesan spiritual: berhentilah sejenak. Duduklah. Evaluasilah diri. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, Islam justru menawarkan momen untuk memperlambat diri.
Dalam konteks kekinian, “duduk” berarti melakukan muḥāsabah (محاسبة), introspeksi mendalam. Setelah Ramadan berlalu, kita sering terjebak dalam ilusi bahwa kita sudah cukup baik. Padahal, Dzulqadah datang untuk bertanya: apakah bekas Ramadan masih hidup dalam diri kita?




