REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menurut Ibnu Taimiyah, seseorang dengan hati yang bersih dapat membedakan antara hal baik dan buruk. Jika seseorang tidak mengetahui hal tersebut, berarti hatinya belum bersih dan belum terpuji.
Ini sesuai dengan Alquran surah al-Hajj ayat 46, Allah SWT berfirman yang artinya, “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
Maksud dari ayat di atas adalah tidaklah orang-orang yang mendustakan dari suku Quraisy itu berjalan di muka bumi untuk menyaksikan bekas-bekas kehancuran orang-orang yang dibinasakan, sehingga mereka mau berpikir dengan akal-akal mereka. Dan kemudian mengambil pelajaran darinya serta mendengarkan berita-berita mereka dengan penuh perenungan, sehingga dapat memetik pelajaran darinya?
Karena sesungguhnya hakikat kebutaan bukanlah kebutaan penglihatan, tetapi kebutaan yang membinasakan adalah kebutaan mata hati untuk menangkap kebenaran dan mengambil pelajaran. Buta hati itu sangat berbahaya dan akan menyebabkan seseorang tidak bisa menerima kebenaran sehingga jalan hidupnya bisa tersesat.
Hati yang bersih juga akan membawa manusia kepada ketenangan hidup dan kekhusyukan dalam beribadah. Sebaliknya, hati yang kotor cenderung membawa manusia untuk berbuat maksiat karena perbuatannya dikendalikan nafsu.




