Rabu 20 May 2026 16:15 WIB

Penelitian Ilmiah Ungkap Teori Fisika dalam Tragedi Terowongan Mina 2006 dan Solusi Jitunya

Tragedi mematikan di Mina pada 2006 menelan ratusan korban jiwa.

Jamaah haji yang didominasi dari Indonesia melintasi terowongan Muaisim saat akan melempar jamrah hari ketiga di Mina, Arab Saudi, Jumat (30/6/2023). Jamaah haji yang melakukan nafar awal sudah harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam, namun jamaah yang akan mengambil nafar tsani harus menginap satu malam lagi di Mina sampai denga 13 Dzulhijah.
Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Jamaah haji yang didominasi dari Indonesia melintasi terowongan Muaisim saat akan melempar jamrah hari ketiga di Mina, Arab Saudi, Jumat (30/6/2023). Jamaah haji yang melakukan nafar awal sudah harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam, namun jamaah yang akan mengambil nafar tsani harus menginap satu malam lagi di Mina sampai denga 13 Dzulhijah.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH— Salah satu tragedi paling memilukan dalam pelaksanaan ibadah haji terjadi pada 12 Januari 2006 atau bertepatan dengan 12 Dzulhijjah 1426 Hijriyah, tepatnya di area pintu masuk jembatan Jamarat lama di Mina, Makkah.

Pada hari itu, bagian timur pintu masuk jembatan menjadi lokasi bencana desak-desakan maut di puncak kepadatan jamaah pada hari nafar awal.

Baca Juga

Sedikitnya 362 jamaah haji meninggal dunia dan ratusan lainnya terluka setelah massa manusia menumpuk di area sempit dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi, mencapai lebih dari tujuh orang per meter persegi.

Situasi semakin memburuk akibat bercampurnya arus masuk dan keluar jamaah serta banyaknya barang bawaan yang menghambat pergerakan.

Untuk mencegah tragedi serupa terulang, para ilmuwan berupaya memahami penyebab utama di balik bencana tersebut dan mencari solusi yang tepat.

Upaya itu dilakukan melalui sebuah penelitian yang dipimpin ilmuwan Jerman terkemuka di bidang sosiologi komputasional, Dirk Helbing, yang kini menjadi profesor di ETH Zurich.

Dilansir Aljazeera, Rabu (20/5/2026), penelitian itu dilakukan bersama dua tokoh lainnya, yakni peneliti Anders Johansson—yang kini menjadi profesor madya matematika teknik di University of Bristol—serta mantan Wakil Menteri Urusan Kota dan Pedesaan Arab Saudi, Dr Habib Zain Al-Abidin.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement