
Oleh : Prof Abdul Hadi WM*)
"Bulan puasa telah tiba, larangan Raja mulai berlaku. Jauhkan tanganmu dari makanan tubuh, hidangan rohani telah tersedia. Roh bebas dari tempat pengasingannya, membekuk tangan tabiat jelek. Hati yang sesat telah ditaklukkan, pasukan iman telah sampai...."
Ini hanya sepenggal kata-kata Rumi dalam sebuah qasidahnya. Bersahaja, dan mendalam. Namun kebanyakan orang memahami arti puasa (shaum) secara harfiah, yaitu menahan --tepatnya menahan lapar sebagai latihan pengendalian diri.
Disebabkan berhenti pada makna harfiahnya, kita sering lalai akan makna hakiki puasa. Larangan saja, selain tak menyentuh makanan, lantas terabaikan.
Hidangan rohani yang tersedia tidak sempat pula disentuh. Banyak orang berhasil berpuasa satu bulan penuh sepanjang bulan Ramadhan tidak merasakan perubahan yang berarti dalam dirinya.
Hal-hal yang dilarang agama dan merugikan masyarakat, tetap saja diabadikan. Kebiasaan mengumbar nafsu berlangsung terus, pengalaman keagamaan yang diperolehnya selama menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih tidak berbekas sedikitpun.
Syekh Ali Utsman Al-Hujwiri, sufi abad ke-11 dari Afghanistan, mencoba menjelaskan sebab-sebab kecenderungan tersebut muncul sebagai fenomena umum di kalangan umat Islam.
Banyak orang lupa bahwa ibadah puasa adalah sebuah perjuangan batin menaklukkan kecenderungan buruk dalam diri kita (mujahadah) untuk mencapai kesaktian yang mendalam (musyahadah) akan keesaan dan kasih sayang Tuhan.




