REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lailatul Qadar adalah malam turunnya Alquran. Surah al-Qadr ayat pertama menjelaskannya. Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada Malam Kemuliaan (Lailatul Qadar).”
Di antara pelbagai keistimewaan Ramadhan ialah bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan ini. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185. Artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Baik Alquran maupun hadis Nabi Muhammad SAW tidak menyebut tanggal pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar. Namun, Rasulullah SAW seperti diriwayatkan Aisyah pernah bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada tanggal-tanggal ganjil dari 10 akhir bulan Ramadhan.”
Adalah wajar bila kaum Muslimin memburu kemuliaan Lailatul Qadar. Sebab, ada keberkahan dari momen yang "lebih baik daripada seribu bulan" itu.
Maka, dalam bulan suci Ramadhan ini kerap kita jumpai banyak orang sibuk mencari-cari pertanda datangnya Lailatul Qadar. Hal itu ditanggapi KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha.
Seperti dilansir dari laman NU Online, Gus Baha menerangkan bahwa Islam tidak memerintahkan umat agar menandai alamat datangnya Lailatul Qadar. Dalam beberapa hadis masyhur, yang ada justru perintah untuk mencari Lailatul Qadar.
"Cari Lailatul Qadar. Kok malah mencari tanda-tandanya?" kata Gus Baha retoris, seperti dikutip Republika dari laman NU Online.




