Oleh: KH Hasyim Muzadi (1944-2017)*)
Puasa Ramadhan, jelas sebuah desain amat serius yang Allah peruntukan bagi kita umat Islam sebagai hamba-Nya. Begitu besarnya manfaat puasa pada bulan agung ini, sampai- sampai agama menempatkan puasa Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam.
Bahkan, kelengkapan seorang Muslim ditentukan pula oleh kelengkapannya dalam mengadopsi kelima rukun Islam dimaksud. Bila lepas, apalagi sengaja mengabaikan satu di antara kelima rukun itu, amat mungkin berkurang kelengkapannya sebagai seorang Muslim.
Begitulah hidup. Ia akan tetap bermakna dalam posisi kita sebagai hamba yang bersaksi dan meyakini akan af’al dan asma’ Allah, sepanjang kita memegangnya secara teguh. Soal apakah ia mengalami shifting karena berbagai pergeseran tantangan hidup, itu sebuah risiko.
Hal yang paling penting adalah bahwa kita menyadari itu sebuah kesalahan agar kita segera kembali ke jalan yang benar. Jalan yang telah digariskan oleh Allah untuk segenap anak manusia. Dalam konteks ini, puasa Ramadhan adalah skenario yang didesain agar kita memiliki ruang dan waktu untuk “bernegosiasi”. Menegosiasikan berbagai kemungkinan yang dipersiapkan Allah agar kita dapat memperbarui “persaksian” kepada-Nya.
Terlebih dalam sebelas bulan sebelum Ramadhan, kita telah kehilangan kemanusiaan kita sehingga untuk itu dibutuhkan ruang dan waktu “khusus” agar kita mampu memulangkan aspek kemanusiaan kita. Memang, semua ruang dan waktu bisa kita jadikan kesempatan untuk kembali kepada Allah.




