REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Masjid Indonesia (DMI) menekankan pentingnya pembuatan basis data masjid di seluruh Indonesia untuk menghadirkan inisiatif sosial berkelanjutan dan meningkatkan nilai tambah sosial bangunan masjid.
"Saya berharap sudah dimulai melakukan pembuatan basis data masjid yang akan kita penetrasi. Lokasi by name, by address, semuanya. Dulu kami pernah lakukan. Sampai foto MCK-nya, menaranya," kata Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat DMI Rudiantara dalam konferensi pers #BerikanWaktuUntukKebaikan Bersama WIPOL di Masjid Al Azhar, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
DMI telah menggandeng sejumlah korporasi untuk meningkatkan nilai tambah masjid. Salah satunya dengan menggandeng Unilever melalui produk kebersihan WIPOL dalam melakukan Gerakan Masjid Bersih (GMB) yang telah memasuki tahun ke-10.
"Kalau WIPOL fokusnya adalah kebersihan di dalam masjid. Tapi kami dari Dewan Masjid, motonya adalah memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid. Jadi kita juga tidak boleh berhenti hanya membersihkan di dalam masjid. Kita juga harus membersihkan lingkungan masjid, di luar masjid, agar semuanya bisa menjadi bersih. Dan lebih penting lagi, mumpung bulan puasa, membersihkan hati kita," kata Rudiantara.
Tercatat ada 60 ribu masjid dalam program GMB Unilever.
"Itu pasar bagi kita. Pasar bagi Unilever maupun pasar bagi DMI. Tetapi Unilever sebagai korporasi fokusnya adalah kepada financial capital. Sedangkan bagi DMI, kami tidak fokus kepada financial capital, tetapi kami fokus kepada social capital. Jadi nilai tambah apa yang meningkatkan social capital dari Dewan Masjid Indonesia," kata mantan menteri komunikasi dan informatika itu.
View this post on Instagram




