REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Kementerian Agama (Kemenag) menjadikan peringatan Tumpek Uye sebagai momentum spiritual umat Hindu untuk memuliakan hewan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai bagian dari dharma kehidupan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, I Nengah Duija, mengatakan Tumpek Uye merupakan hari suci yang diperingati setiap 210 hari sekali untuk menghormati satwa sebagai ciptaan Tuhan yang berperan dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
“Tumpek Uye adalah momentum suci bagi umat Hindu yang diperingati setiap 210 hari sekali untuk memuliakan para hewan dan satwa yang tumbuh di atas bumi ini,” ujar Duija saat peringatan Tumpek Uye di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jumat (6/2/2026).
Menurut Duija, makna Tumpek Uye tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata pelestarian alam. Berbagai kegiatan ekoteologis dilakukan, mulai dari penanaman pohon hingga pelepasliaran satwa.
Di kawasan Pura Gunung Salak, umat Hindu menanam 1.200 pohon dan melepasliarkan 700 ekor burung dari berbagai jenis. Secara nasional, kegiatan serupa dilakukan di berbagai provinsi dengan total 14.580 pohon tertanam dan 4.690 satwa dilepasliarkan.“Aksi ini merupakan simbol bakti umat Hindu kepada alam semesta dan Ibu Pertiwi,” ucap Duija.




