Rabu 07 Jan 2026 18:59 WIB

Surga Bagi Istri Taat Suami

Suami adalah pelindung bagi istri.

Istri (ilustrasi)
Foto: pexels
Istri (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Taat kepada suami menjadi sebuah kewajiban bagi seorang Muslimah yang telah menikah. Meski demikian, ketaatan istri kepada suami harus terlepas dari segala kemaksiatan.

Dalam HR Ahmad, Nabi SAW pernah bersabda, "Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu mana pun yang kau mau.'"

Baca Juga

Dalam pernikahan, suami bisa menjadi surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhaan suami menjadi ridha Allah SWT. Istri yang tidak diridhai suaminya karena tidak taat, dikatakan sebagai istri yang durhaka atau kufur nikmat.

Dalam HR Bukhari Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita merupakan penghuni neraka terbanyak. Seorang Muslimah lantas bertanya mengenai alasan hal tersebut. Nabi SAW lalu menjawab bahwa di antara penyebabnya ialah lantaran para istri banyak yang durhaka pada suaminya.

Dalam surah an-Nisa ayat ke-34, Allah SWT berfirman, yang berarti, "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya."

Ketaatan seorang istri akan memengaruhi kelanggengan dan keharmonisan sebuah hubungan keluarga. Islam pun memuji istri yang taat kepada suaminya. Istri yang taat dianggap sebagai wanita terbaik.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW, 'Siapakah wanita yang paling baik?'"

Maka beliau menjawab, 'Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.'"

Rasulullah SAW pernah bersabda tentang sifat wanita penghuni surga: "Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya. Apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, 'Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha.'"

Dikisahkan pada zaman Rasulullah SAW, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya kepada Nabi SAW. Dari Hushain bin Mihshan, bahwa saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah SAW karena ada suatu keperluan.

Setelah ia menyelesaikan ke perluannya, Nabi SAW bertanya, "Apakah engkau telah bersuami?"

Ia menjawab, "Sudah."

Beliau bertanya lagi, "Bagaimana sikapmu kepada suamimu?"

Ia menjawab, "Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya."

Mendengar hal itu, Nabi SAW berpesan, "Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) surgamu dan neraka."

Kewajiban lain dari seorang istri adalah benar-benar menjaga amanah suami di rumahnya. Baik menjaga harta suami maupun rahasia-rahasianya, dan bersungguh-sungguh mengurus urusan-urusan rumah.

Rasulullah SAW bersabda, "Dan wanita adalah penanggung jawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban."

Namun, ketaatan yang harus dilakukan oleh seorang istri kepada suami adalah hal-hal yang ma'ruf dan baik dalam hal agama. Ajakan untuk kebaikan, seperti shalat, berpuasa, menggunakan pakaian syari, dan menghadiri majelis ilmu.

Kewajiban istri untuk menaati suaminya bukan sebuah ketaatan tanpa batasan. Dalam HR Al-Bukhari disebutkan, "Tidak ada ketaatan dalam hal berbuat maksiat, tetapi ketaatan adalah pada hal-hal yang baik."

Ketaatan istri ini harus dibarengi oleh sikap suami yang suka berkonsultasi dan meminta masukan dari istrinya, komunikasi seperti ini bisa memperkuat ikatan dalam keluarga.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement