REPUBLIKA.CO.ID, Menjelang embusan nafas terakhirnya, Bisyr bin al-Harits seorang waliyullah yang dikenal karena kezuhudan dan kedermawanannya masih menegaskan makna sedekah dan keikhlasan. Di ambang ajal, ia tetap mendahulukan membantu orang lain dibandingkan untuk kenyamanan dirinya sendiri. Dia meninggalkan jejak keteladanan yang dikenang hingga hari wafatnya.
Dikisahkan, Bisyr bin al-Harits sedang terbaring menantikan ajalnya. Seseorang datang dan mengeluh tentang nasibnya yang malang kepada Bisyr.
Bisyr bin al-Harits pun melepaskan pakaiannya dan memberikannya kepada lelaki yang mengeluh itu, kemudian Bisyr mengenakan pakaian pinjaman dari seorang sahabat. Dengan pakaian pinjaman itulah, Bisyr wafat dan berpindah ke alam baka.
Nama lengkap sang waliyullah adalah Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah atau 767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, ia mempelajari hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki. Bisyr bin al-Harits meninggal di kota Baghdad tahun 227 H atau 841 M.
Bisyr bin al-Harits sangat dikagumi oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al-Ma'mun.Dikisahkan, Imam Ahmad bin Hambal sangat sering mengunjungi Bisyr, ia begitu mempercayai kata-kata Bisyr sehingga murid-murid Imam Ahmad pernah mencela sikapnya itu.




