Kamis 29 Oct 2026 14:38 WIB

Jumadil Awal, Bulan Bersejarah Pernikahan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah

Jumadil Awal 1448 Hijriah pada tahun 2026 dimulai pada 12 Oktober.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi Bulan di Tahun Hijriyah
Foto: Dom
Ilustrasi Bulan di Tahun Hijriyah

Bulan Jumadil Awal merupakan bulan kelima dalam kalender Hijriyah yang menyimpan sejumlah catatan sejarah penting dalam perjalanan Islam. Bulan yang berada setelah Rabiul Akhir ini menjadi momentum untuk mengenang berbagai peristiwa bersejarah sekaligus mengambil hikmah dari perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menyebarkan ajaran Islam.

Untuk diketahui, bulan Jumadil Awal 1448 Hijriah pada tahun 2026 dimulai pada 12 Oktober sampai 11 November 2026.

Baca Juga

Satu di antara banyak pristiwa penting pada bulan Juamadil Awal adalah pernikahan Nabi Muhammad SAW saat berusia 25 tahun dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid yang telah berusia 40 tahun.

Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa’ad meriwayatkan, pernikahan mulia antara Nabi Muhammad SAW dan Sayyidah Khadijah berlangsung pada bulan Jumadil Awal di Makkah, sekitar 15 tahun sebelum turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua individu, namun menjadi pondasi dan landasan terkuat pendukung dakwah Islam di fase-fase awal kenabian, hingga menghadirkan keturunan-keturunan mulia Nabi Muhammad SAW dan Sayyidah Khadijah. Serta menjadi contoh terbaik dalam membangun rumah tangga yang dipenuhi keridhaan Allah SWT.

Sebelum pernikahan itu berlangsung, Nabi Muhammad SAW sudah terkenal di seluruh Makkah dengan gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya) berkat kejujuran, kesucian moral, dan integritasnya.

Sementara itu, Sayyidah Khadijah adalah seorang wanita bangsawan Quraish yang kaya raya dan dihormati, dengan bisnis yang sukses. Ia dijuluki At-Thahirah (wanita yang suci) karena berhasil menjaga kehormatannya di tengah masyarakat pra-Islam (Jahiliyyah).

Mendengar kejujuran dan akhlak mulianya, Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad SAW untuk mengelola barang dagangannya ke Suriah. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana ia mengutamakan moral dan berkah dalam urusan bisnisnya melalui asistennya, Maisarah, Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah dengannya melalui temannya, Nafisah binti Munabbih.

Pernikahan tersebut berlangsung dengan kehormatan dan restu penuh dari kedua keluarga. Paman Nabi, Abu Thalib, menyampaikan khutbah pernikahan, memuji kemuliaan akhlak, silsilah, dan keutamaan Nabi Muhammad SAW di hadapan para tokoh Quraish, dikutip dari berbagai sumber literatur Islam.

Mahar yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidah Khadijah adalah 20 ekor unta betina muda. Pernikahan yang berlangsung pada bulan Jumadil Awal ini membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis selama 25 tahun, di mana Nabi Muhammad SAW tidak menikahi wanita lain selama Sayyidah Khadijah masih hidup.

Sayyidah Khadijah merupakan tiang penopang cinta dan perjuangan dalam misi kenabian Nabi Muhammad SAW. Peran Sayyidah Khadijah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW sungguh tidak tertandingi.

Sayyidah Khadijah merupakan penenang di masa krisis bagi Nabi Muhammad SAW setelah menerima wahyu pertamanya di Gua Hira dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Sayyidah Khadijah adalah orang pertama yang memeluk, menenangkan, dan menguatkan Nabi Muhammad SAW.

Sayyidah Khadijah juga merupakan As-Sabiqunal Awwalun, orang atau golongan pertama yang memeluk Islam, mengabdikan seluruh dirinya untuk perjuangan tersebut. Seluruh kekayaan dan usaha beliau turut dikerahkan untuk mendukung Nabi Muhammad SAW dalam perjuangan Islam, terutama selama suku Quraish di Shayb al-Abas melakukan boikot terhadap umat Islam.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi