REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bila ditinjau dari sisi dosa dan kesalahan, ada perbedaan yang mendasar antara sikap manusia dan setan.
Lihatlah misalnya kisah Nabi Adam dan setan. Ketika setan melakukan kesalahan--yakni keengganannya untuk mematuhi perintah Allah: bersujud kepada Adam a.s.--ia mengambil sikap cuci tangan dan mencari kambing hitam.
Di sini setan justru menjadikan Allah sebagai kambing hitam kesalahannya. ''Bimaa aghwaitani (karena Engkau yang telah menyesatkan aku)'', demikian setan menuduh Allah. Setan merasa tidak bersalah, merasa suci, dan sempurna dari kesalahan.
Sementara itu, Adam a.s., ketika melakukan sebuah kesalahan--misalnya ketika memakan buah kuldi yang dilarang Allah--segera melakukan autokritik. Dirinyalah yang pertama kali menjadi tertuduh.
''Robbanaa zolamna anfusanaa (Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri),'' kata Adam dengan nada menyesal.
Walaupun ia waktu itu sadar bahwa kesalahan itu tak lepas dari pengaruh eksternal, yaitu godaan setan. Sikap ini mendorong Adam a.s. dan Hawa istrinya bertindak positif, yakni memohon ampunan dari Allah: ''.... Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, maka jika Engkau tak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi'' (QS 7:23).
Ada dua keuntungan dari sikap Adam dibandingkan dengan sikap setan. Pertama, protecting potentiality. Sikap autokritik menjaga potensi-potensi positif yang ada -- seperti bertobat, mengoreksi, dan memperbaiki kesalahan -- agar terus dapat difungsikan.
Kedua, steering potentiality, yaitu mengarahkan potensi-potensi yang ada pada tujuan-tujuan positif dan konstruktif. Secara psikologis harus diakui bahwa tak ada kesalahan manusia kecuali ada jalinan antara pengaruh faktor internal dan eksternal.
View this post on Instagram




