Selasa 23 Dec 2025 06:23 WIB

Kisah Siti Hajar: Perjuangan Sunyi Seorang Ibu

Perjuangan Siti Hajar adalah perjuangan yang tidak disaksikan manusia.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Sumur Zamzam masa dahulu
Foto: istimewa
Sumur Zamzam masa dahulu

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di sebuah lembah tandus bernama Bakkah yang kelak dikenal sebagai Makkah, Siti Hajar ditinggalkan sendirian bersama bayi kecilnya bernama Ismail. Tidak ada pepohonan, tidak ada sumber air, dan tidak tampak tanda-tanda kehidupan. Hanya panas yang menyengat dan keheningan.

Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi, Siti Hajar berlari mengejarnya. Dengan hati yang diliputi kegelisahan, ia bertanya, “Wahai Ibrahim, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”

Baca Juga

Ketika Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.” Siti Hajar berhenti. Ia tidak menangis, tidak memprotes, tidak pula mengeluh. Dengan keyakinan yang kokoh ia berkata, “Jika demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Hari-hari berlalu. Persediaan air habis. Ismail menangis kehausan. Siti Hajar tidak sanggup melihat putranya merintih. Ia berlari menuju Bukit Shafa, berharap melihat kafilah atau sumber air. Tapi tidak ada apa-apa.

Kemudian Siti Hajar berlari ke Bukit Marwah, masih juga tidak melihat apa-apa yang dicarinya. Ia bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, bukan karena putus asa, melainkan karena harapan seorang ibu yang tidak pernah padam.

Di saat ikhtiar mencapai batas terakhirnya, Allah menurunkan pertolongan-Nya. Dari hentakan kaki kecil Ismail, memancarlah air zamzam, air kehidupan, air keberkahan, air yang hingga kini tak pernah kering.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement