REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memastikan penyaluran dana Gerakan Infak Jumat di masjid-masjid Muhammadiyah dilakukan secara terkoordinasi, terukur, dan berbasis kebutuhan riil di lapangan.
Hingga 19 Desember 2025, sedikitnya 22.071 jiwa terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh telah menerima manfaat dari respons Muhammadiyah.
Ketua MDMC, Budi Setiawan, mengatakan MDMC menjadi koordinator utama penyaluran bantuan di lapangan, sementara penghimpunan dan pelaporan dana dilakukan oleh Lazismu.
Dana infak digunakan untuk mendukung pengiriman relawan kesehatan, psikososial, logistik, hingga pembangunan hunian darurat.
“MDMC yang mengoordinasikan di lapangan. Penempatan relawan kesehatan, psikososial, dan logistik kita atur agar merata, sehingga wilayah yang belum terjangkau bisa segera dibantu,” ujar Budi saat dihubungi Republika.co.id, Sabtu (20/12/2025).
Berdasarkan Laporan Situasi Pos Koordinasi Nasional Respons Muhammadiyah per 19 Desember 2025, bencana banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut telah menyebabkan 1.068 orang meninggal dunia, 7.000 luka-luka, 190 orang hilang, dan 537.185 jiwa mengungsi.
Kerusakan infrastruktur juga tergolong masif. Tercatat 147.236 unit rumah rusak, terdiri atas 44.051 rusak berat, 29.809 rusak sedang, dan 73.376 rusak ringan.
Selain itu, 581 fasilitas pendidikan, 219 fasilitas kesehatan, 145 jembatan, 434 tempat ibadah, serta 290 perkantoran terdampak bencana .
Budi menegaskan informasi dana infak Jumat di masjid-masjid Muhammadiyah telah mencapai miliaran. Berdasarkan data Lazismu, dana yang terkonfirmasi sudah mencapai Rp 36 Miliar dan diharapkan bisa tembus di angka Rp 70 miliar.
Dalam operasional lapangan, MDMC mengerahkan 394 personel relawan lintas kluster, mulai dari kesehatan, logistik, dapur umum, pembersihan, psikososial, hingga manajemen posko.
Lihat postingan ini di Instagram




