Ahad 14 Dec 2025 16:10 WIB

Kisah Penginjil yang Mengabarkan Kenabian Muhammad SAW

Waraqah meminta agar Nabi Muhammad mendekat kepadanya, lalu dicium ubun-ubunnya.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Tidur Rasulullah SAW (ilustrasi)
Foto: republika
Tidur Rasulullah SAW (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,Waraqah bin Naufal merupakan seorang pendeta Nasrani yang memiliki saudara kandung bernama Khadijah binti Khuwalid Radhiyallhu anha. Pada satu hari, Khadijah yang penasaran akan apa yang telah dialami suaminya Muhammad SAW pada masa awal menerima wahyu dari Allah SWT pergi menemuinya. 

HMH Al-Hamid Al-Husaini dalam buku ‘Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW’ menerangkan,  Waraqah kala itu terkenal sebagai penginjil terkemuka di kalangan Nasrani. Kedatangan Khadijah pada hari yang masih teramat pagi tersebut diterima baik oleh Waraqah.

Baca Juga

Setelah dipersilakan duduk, Khadijah diminta untuk menerangkan maksud kedatangannya  pada pagi hari itu. Waraqah yang sudah lanjut usia tidak dapat berjalan baik. Sambil duduk mendengarkan semua yang diceritakan oleh Khadijah, tiba-tiba wajah Waraqah tampak kemerah-merahan berseri-seri.

Dengan semangat, Waraqah berkata, "Quddus, Quddus, Demi Tuhan yang menentukan hidup-matiku, jika engkau percaya, hai Khadijah, yang datang kepadanya (Nabi Muhammad SAW) itu adalah malaikat terbesar yang dahulu datang kepada Musa dan Isa! Ia (Muhammad) adalah Nabi bagi umat ini. Katakan kepadanya hendaknya, ia tetap tabah dan mantap."

Tanpa menunggu tambahan penjelasan lagi, Khadijah cepat-cepat pamit diri untuk segera pulang. Dia pun berjalan cepat ingin segera menyampaikan berita gembira itu kepada suaminya. Ternyata, Nabi Muhammad SAW masih tidur setelah ketakutan akibat menerima wahyu yang pertama. Khadijah tidak tega membangunkannya. Beberapa saat, ia duduk di sampingnya, menunggu hingga Muhammad terbangun sendiri dari tidurnya.

Dengan keringat dingin membasahi muka dan dengan napas terengah-engah, Muhammad SAW bergerak, kemudian membuka mata dan bangun. Beberapa saat beliau tampak masih dalam keadaan seperti itu hingga pulih Kembali ketenangannya.

Begitu rupa keadaan beliau hingga kelihatan sedang mendengarkan orang berbicara di depannya perlahan-lahan, seakan-akan sedang mengimlakan kalimat-kalimat yang tak boleh dilupakan.

photo
Jannatul Mala atau lebih dikenal dengan sebutan Pemakaman Mala menjadi salah satu tujuan ziarah jamaah haji dan umroh di Kota Mekkah. Pemakaman yang sudah ada sebelum Rasulullah lahir itu tertata rapi dengan batu-batu nisan tanpa nama. Beberapa keluarga Rasulullah dikebumikan di Mala. Di antaranya, Sayyidah Khadijah (istri), Aminah (ibu), Qasim dan Abdullah (anak), Abu Thalib (paman), dan Abdul Muthalib (kakek). Selain itu ada juga ulama Indonesia yang dimakamkan di Mala. Mereka adalah Syekh Nawawi Al Bantani dan yang terbaru KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang meninggal pada 2019 saat menunaikan ibadah haji. - (Karta/Republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement