REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Amnesty International pada Kamis (3/4/2025) mengecam keras keputusan Hungaria menarik diri dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dengan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap semua korban kejahatan perang.
Dalam sebuah pernyataan, Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard mengatakan para pemimpin negara-negara anggota ICC tidak boleh melemahkan pengadilan itu dengan menerima kunjungan pemimpin Israel Benjamin Netanyahu atau buronan penjahat perang lainnya.
Kepala Staf Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, Gergely Gulas mengatakan proses penarikan diri dari pengadilan yang berpusat di Den Haag tersebut akan dimulai Kamis. Keputusan itu diambil tak lama setelah Netanyahu tiba di Budapest untuk kunjungan empat hari.
"Dengan menyambut Netanyahu, Hungaria secara efektif memberikan persetujuan terhadap genosida Israel, yaitu penghancuran fisik rakyat Palestina secara keseluruhan atau sebagian di Gaza," kata Callamard dalam pernyataan itu.
Dia menambahkan keputusan Hungaria adalah upaya kurang ajar dan sia-sia untuk menghindar proses pengadilan internasional dan menghalangi kerja ICC. Callamard menggambarkan penyambutan Netanyahu oleh Orban sebagai upaya melindungi buronan ICC.
