Senin 10 Jun 2024 11:42 WIB

Jamaah Haji yang Sakit Jalani Safari Wukuf Pakai Ambulans dan Murur di Mudzdalifah

Jamaah yang sakit akan dibawa menggunakan ambulans ke Padang Arafah.

Ilustrasi Safari Wukuf
Foto: Foto : MgRol112
Ilustrasi Safari Wukuf

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Karta Raharja Ucu dari Makkah, Arab Saudi

Petugas Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi 2024 sudah menyiapkan skema Safari Wukuf untuk jamaah haji yang sakit. Namun, bagi jamaah yang kondisinya belum stabil dan tidak bisa menjalani Safari Wukuf di Padang Arafah akan dibadalhajikan.

Baca Juga

Jamaah yang menjalani Safari Wukuf akan diantarkan menggunakan ambulans ke Arafah untuk wukuf guna menyempurnakan rukun haji. Namun jamaah yang tidak bisa ikut safari, jamaah tersebut akan dibadalhajikan oleh petugas.

Pembimbing Haji PPIH Arab Saudi, Prof KH Aswadi Syuhadak menjelaskan, pelaksanaan ibadah haji dilakukan sesuai dengan situasi dan kesempatan serta kondisi jamaah. Karena itu, jamaah yang sakit di Madinah sudah didorong ke Mekkah dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) akan menentukan mana jamaah yang bisa diikutsertakan dalam Safari Wukuf.

 

"Berdasarkan jamaah lansia, jamaah yang risti (risiko tinggi). Sehingga ada kepastian apakah mereka terdata dalam Safari Wukuf," ucap dia.

Bagi jamaah yang sudah dinyatakan sembuh dan bisa melaksanakan ibadah Wukuf, kata Kiai Aswadi, maka akan diikutsertakan dengan kloter masing-masing. Sedangkan bagi jamaah haji yang kondisinya tidak memungkinkan untuk dibawa ke Arafah, seperti jamaah haji lansia dan risti, jamaah akan didorong langsung menuju Mina tanpa melintas. "Jamaah yang sakit akan dibadalkan," kata Prof Aswadi.

Kiai Aswadi menyebut kemudahan-kemudahan dapat diberikan kepada jamaah yang kondisinya sakit, jamaah lansia, jamaah risti, dan jamaah yang tidak memungkinkan untuk berlama-lama di Mudzdalifah. Salah satu kemudahan yang didapat adalah skema murur atau hanya melintas di Muzdalifah tanpa menginap atau mabit. "Sehingga kondisi jamaah tetap menjadi prioritas, supaya kesehatan jamaah haji tetap terjaga," ucap Kiai Aswadi.

Sebelumnya Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Ali Machzumi mengatakan, jamaah yang sakit akan dibawa ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). "Nanti jamaah akan Safari Wukuf," ucap Ali.

Jika jamaah tidak menggunakan alat-alat medis nanti, jamaah bisa dibawa menggunakan ambulans atau bus. Sehingga bisa mengikuti rangkaian puncak haji. "Jadi tidak perlu dibadalkan. Tetapi jika tidak bisa semisalnya jamaah masih pakai infus maka hajinya akan dibadalkan," kata Ali.

Ada sejumlah skema yang disiapkan agar seluruh jamaah haji bisa diberangkatkan ke Mekkah. Tujuannya agar jamaah haji bisa mengikuti semua rangkaian puncak haji di Armuzna.

Skema pertama, kata Ali, jamaah yang kondisinya membaik sebelum 7 Juni, atau tiga hari jelang ditutupnya gerbang masuk Kota Makkah, akan diantarkan petugas KKHI ke Mekkah. Sebelum berangkat jamaah tersebut akan difasilitasi untuk mengambil miqat dan berihram. "Oleh pembimbing ibadah dari PPIH," kata dia.

Skema kedua, PPIH Arab Saudi menyiapkan pengantaran jamaah di rumah sakit yang kondisinya masih belum memungkinkan. Jamaah akan diberangkatkan menggunakan ambulans khusus menuju rumah sakit di Mekkah.

Jamaah yang dirawat di rumah sakit akan dilihat kondisinya terlebih dahulu sebelum puncak haji. jika tidak memungkinkan, jamaah akan diikutkan safari wukuf yang difasilitasi petugas haji. "Sebaliknya, jika sembuh, mereka bisa bergabung dengan rombongan," kata Ali. 

Seberapa tertarik Kamu untuk membeli mobil listrik?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement