Kamis 22 Feb 2024 15:17 WIB

Prof Maurice, Ilmuwan Prancis yang Jadi Mualaf Gara-Gara Jasad Firaun

Tak ada kitab suci selain Alquran yang menjelaskan soal jasad Firaun.

Rep: Mabruroh/ Red: Muhammad Hafil
 Prof Maurice, Ilmuwan Prancis yang Jadi Mualaf Gara-Gara Jasad Firaun. Foto:  Firaun
Prof Maurice, Ilmuwan Prancis yang Jadi Mualaf Gara-Gara Jasad Firaun. Foto: Firaun

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Alquran merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw yang luar biasa. Alquran bukan hanya menjadi rahmat bagi umat Islam, tetapi juga obat, petunjuk, hingga sumber informasi ilmiah bisa ditemukan di dalam Alquran.

Misalnya saja ilmuwan asal Prancis, Prof Dr Maurice Bucaille yang memeluk Islam usai meneliti jasad Firaun. Menurutnya, tidak ada dalam kitab manapun yang menjelaskan tentang nasib jasad Fir’aun selain Alquran.

Baca Juga

Kisahnya bermula pada tahun 1898, Arkeolog Mesir berhasil menemukan mumi Firaun. Mesir juga sempat membuat pameran mumi Firaun pada tahun 1907 di Museum Cairo. 

Kemudian pada tahun 1975, Pemerintah Prancis memberikan tawaran untuk meneliti dan mempelajari jasad mumi Firaun yang disebut masih utuh tersebut.  Hingga akhirnya jasad Fir’aun diterbangkan ke Prancis dan dimasukkan ke ruangan khusus untuk dipelajari dan diteliti oleh para  ilmuwan dan dokter bedah terkemuka di Prancis.

Prof Dr Maurice Bucaille adalah kepala ahli bedah terkemuka pada masa itu. Ia kemudian menjadi pemimpin sekaligus penanggungjawaban utama penelitian mumi Fir’aun itu. Ia mengerahkan semua kemampuannya untuk mempelajari dan menganalisis jasad mumi Fir’aun, termasuk mencari penyebab kematiannya dan menguak misteri utuhnya jasad Fir’aun.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh mumi Fir’aun adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya dikeluarkan dari laut, kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

 

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Tetapi kemudian, salah seorang dari rekannya membisikkan, agar Prof Bucaille tidak tergesah-gesah dalam membuat kesimpulan akhir, karena umat Muslim sudah mengetahuinya bagaimana kisah tenggelamnya Fir’aun dan bagaimana jasadnya tetap utuh.

Prof Bucaille tentu saja tidak mempercayai itu. Mustahil menurutnya, hal ini bisa diketahui oleh umat Islam padahal penelitian pada jasadnya baru saja dilakukan melalui peralatan canggih. Rekannya kemudian menjelaskan, bahwa Alquran yang merupakan kitab suci umai Islam telah lebih dulu mengisahkan tenggelamnya Fir’aun dan penyelamatan mayatnya.

Prof Bucaille semakin dibuat bingung, bagaimana mungkin-bagaimana mungkin, jasadnya baru diangkat pada 1898, sementara Alquran sudah ada sejak ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ''Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?''

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ''Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka''.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille, firman Allah SWT yang artinya: ''Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.'' (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ''Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini.”

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement