Senin 12 Feb 2024 15:42 WIB

Raja Yordania Abdullah II Berkunjung ke AS Bahas Gaza

Sebelumnya, Abdullah II membantu menurunkan bantuan medis lewat udara di atas Gaza.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Warga Palestina membawa seseorang yang tewas dalam serangan udara Israel di Deir al Balah, Jalur Gaza, Jumat, (9/2/2024).
Foto: AP Photo/Adel Hana
Warga Palestina membawa seseorang yang tewas dalam serangan udara Israel di Deir al Balah, Jalur Gaza, Jumat, (9/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Raja Yordania Abdullah II dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan membahas krisis Gaza saat mereka bertemu dengan Washington DC. Kunjungan ini dilakukan setelah media pemerintah Yordania menayangkan Abdullah II membantu menurunkan bantuan medis lewat udara di atas Gaza.

Dikutip dari Aljazirah, Senin (12/2/2024) Gedung Putih mengatakan Abdullah II dan Biden akan membahas "upaya-upaya untuk mengakhiri krisis" di Gaza dan juga "hubungan bilateral yang kuat" antara Yordania dan Amerika Serikat. Hubungan bilateral tersebut mencakup pangkalan militer AS di timur laut Yordania yang dikenal dengan nama Tower 22.

Baca Juga

Pada Januari lalu tiga tentara AS terbunuh dalam sebuah serangan drone di pangkalan tersebut. Tower 22 terletak dekat dengan perbatasan Suriah dan Irak. Menurut juru bicara militer Irak negara itu telah melanjutkan pembicaraan mengenai penarikan pasukan AS dari wilayahnya.

Sebelumnya, dilaporkan Biden mengatakan serangan-serangan darat Israel ke Rafah tidak boleh dilakukan tanpa rencana "kredibel" untuk melindungi warga sipil di kota itu. Dalam wawancara dengan stasiun televisi ABC News, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kembali rencana untuk menggelar serangan e Kota Rafah.

 

Rafah yang terletak di perbatasan Palestina-Mesir merupakan tempat terakhir warga Gaza mengungsi untuk menghindari pengeboman Israel di Jalur Gaza yang kini suda berlangsung selama empat bulan. Netanyahu memerintahkan tentaranya untuk bersiap masuk ke Rafah yang menampung lebih dari satu juta pengungsi Gaza.

Rencana tersebut menimbulkan kekhawatiran dampak serangan terhadap pengungsi sipil. Seorang pejabat senior pemerintah Biden mengatakan negosiator yang sedang mengupayakan kerangka kerja kesepakatan untuk membebaskan sisa sandera sudah membuat "kemajuan nyata" dalam beberapa pekan terakhir.

Pejabat itu mengatakan kesepakatan pembebasan sandera menjadi fokus utama 45 menit sambungan telepon Biden dengan Netanyahu. Meski ia mengatakan masih terdapat celah "signifikan" yang perlu ditutup.

Gedung Putih mengatakan pada Netanyahu, Biden mengatakan serangan ke Gaza tidak boleh dilakukan tanpa rencana "kredibel" untuk memastikan "keselamatan" orang-orang yang mengungsi di Sana. Kini Rafah dipadati sekitar 1,4 juta warga Palestina dan banyak dari mereka yang tinggal di tenda-tenda sementara makanan, air, dan obat-obatan semakin langka.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement