Sabtu 03 Feb 2024 19:58 WIB

WHO Khawatir Kondisi tak Manusiawi di Gaza Picu Wabah penyakit

Rumah Sakit Eropa di Gaza merawat pasien melebihi kapasitasnya.

Anak-anak pengungsi Palestina makan di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, 1 Februari 2024.
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Anak-anak pengungsi Palestina makan di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, 1 Februari 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan kondisi Rumah Sakit Eropa di Gaza selatan kurang manusiawi bagi pasien. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko merebaknya wabah penyakit.

Melalui media sosial X, Ghebreyesus mengungkapkan sedikitnya 22 ribu orang ditampung di rumah sakit tersebut menyusul pertempuran di Khan Younis di bagian selatan Gaza. Sedangkan, menurut Ghebreyesus, rumah sakit tersebut memiliki kapasitas hanya 670 tempat tidur.

Baca Juga

Rumah sakit itu kini terpaksa merawat 800 pasien, padahal sejumlah layanan seperti unit gawat darurat, perawatan intensif, bedah dan perawatan luka, ibu dan anak, serta laboratorium dan radiologi berfungsi secara terbatas. Akses menuju rumah sakit itu juga terputus imbas gempuran tentara Israel di wilayah tersebut.

"Tim WHO dan mitra kemarin menyaksikan kepadatan yang ekstrem di dalam fasilitas tersebut. Kondisi yang sangat tidak manusiawi untuk pasien, para pekerja kesehatan dan mereka yang tidak memiliki tempat aman untuk berlindung," tulis Ghebreyesus dalam X pada Jumat (2/2/2024).

 

Ghebreyesus mengatakan keterbatasan akses pasokan air bersih dan sanitasi dapat meningkatkan risiko merebaknya penyakit. Dalam kunjungannya, rombongan WHO menyerahkan pasokan medis untuk 9.000 pasien di Rumah Sakit Eropa.

"Kami terus mendorong gencatan senjata. Saat ini juga," kata Ghebreyesus.

Menurut otoritas kesehatan Palestina, sedikitnya 27 ribu warga Palestina terbunuh yang sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sebanyak 66 ribu lainnya terluka akibat serangan militer mematikan Israel di Jalur Gaza.

Serangan tersebut sebagai balasan atas serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menurut negara zionis itu menewaskan 1.200 warganya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement