Kamis 01 Feb 2024 10:24 WIB

Kepala Garda Revolusi Iran Tegaskan tak Takut Berperang dengan AS

Para senator AS menyerukan pemerintahan Biden meluncurkan serangan militer ke Iran.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Foto selebaran yang disediakan oleh situs web resmi Garda Revolusi Iran (IRGC) (SEPAHNEWS) menunjukkan, rudal Fattah (hipersonik) buatan Iran saat  upacara pembukaan di Teheran, Iran, Selasa (6/6/2023). Menurut IRGC Iran, Iran telah menciptakan rudal hipersonik rudal yang mampu menempuh 15 kali kecepatan suara dalam jarak 1.400 km.
Foto: EPA-EFE/SEPAH NEWS
Foto selebaran yang disediakan oleh situs web resmi Garda Revolusi Iran (IRGC) (SEPAHNEWS) menunjukkan, rudal Fattah (hipersonik) buatan Iran saat upacara pembukaan di Teheran, Iran, Selasa (6/6/2023). Menurut IRGC Iran, Iran telah menciptakan rudal hipersonik rudal yang mampu menempuh 15 kali kecepatan suara dalam jarak 1.400 km.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Kepala Korps Garda Revolusi Iran Hossein Salami mengatakan, negaranya tidak takut terlibat peperangan dan konfrontasi dengan Amerika Serikat (AS). Hal itu disampaikan setelah adanya sejumlah pejabat Negeri Paman Sam yang melayangkan ancaman terhadap Teheran menyusul terbunuhnya tiga tentara AS akibat serangan pesawat nirawak di Yordania.

“Belakangan ini, kami mendengar beberapa ancaman dari para pejabat Amerika, yang kepadanya kami sampaikan, kami tidak membiarkan ancaman apa pun tidak terjawab dan kami tidak menginginkan perang, namun kami tidak takut berperang,” kata Salami kepada media pemerintah Iran, Rabu (31/1/2024), dikutip laman Al Arabiya.

Baca Juga

Sehari sebelum Salami menyampaikan pernyataannya, Presiden AS Joe Biden mengungkapkan, dia telah memutuskan respons atas serangan pesawat nirawak yang membunuh tiga tentara AS di Yordania. Namun Biden tak menjelaskan secara terbuka tentang respons seperti apa yang bakal diambilnya.

Biden hanya mengatakan bahwa dia enggan memperluas konflik di Timur Tengah. Kendati demikian, Biden tetap menganggap Iran bertanggung jawab atas terbunuhnya tiga tentara AS di Yordania.

Sebab Biden menuding Teheran memasok persenjataan kepada pihak yang mendalangi serangan pesawat nirawak di Yordania. Iran sudah membantah keterlibatannya dalam peristiwa tersebut.

Terkait aksi serangan di Yordania yang menewaskan tiga tentara AS, sejumlah senator AS menyerukan pemerintahan Biden meluncurkan serangan militer ke Iran. “Satu-satunya jawaban terhadap serangan-serangan ini adalah pembalasan militer yang dahsyat terhadap pasukan teroris Iran, baik di Iran maupun di Timur Tengah,” kata Senator Partai Republik Tom Cotton saat mengomentari terbunuhnya tiga tentara AS di Yordania, Ahad (28/1/2024).

Senator Partai Republik Lindsey Graham turut menyuarakan hal serupa dengan Cotton. “Satu-satunya hal yang dipahami rezim Iran adalah kekerasan. Sampai mereka membayar harga dengan infrastruktur dan personel mereka, serangan terhadap pasukan AS akan terus berlanjut,” ujar Graham.

“Pukul Iran sekarang. Pukul mereka dengan keras,” tambah Graham, yang merupakan kritikus vokal terhadap pendekatan pemerintahan Biden terhadap Iran. Sementara itu, senator Partai Republik lainnya, Rick Scott menghubungkan insiden terbunuhnya tiga tentara AS di Yordania dengan melemahnya kekuatan AS di bawah kepemimpinan Joe Biden.

“Iran secara terang-terangan mempertanyakan kekuatan dan tekad AS berkat sikap Biden yang menenangkan negara sponsor terorisme terbesar di dunia ini. Itu harus diakhiri,” ucapnya.

Senator Republik Dan Sullivan turut mengecam serangan yang membunuh tiga tentara AS di Yordania. “Proksi teroris Iran telah melewati garis merah dengan dilaporkannya pembunuhan tiga anggota militer AS yang pemberani dan melukai puluhan lainnya,” ujar Sullivan.

Senator Partai Demokrat Jacky Rosen turut mengomentari terbunuhnya tiga tentara AS di Yordania. Dia menyalahkan Iran dalam insiden tersebut. “Iran harus bertanggung jawab,” katanya.

Pada Ahad pekan lalu, Joe Biden mengumumkan, tiga tentara AS yang ditempatkan di timur laut Yordania dekat perbatasan Suriah terbunuh akibat serangan pesawat nirawak. Serangan itu turut melukai puluhan tentara AS lainnya. “Meskipun kami masih mengumpulkan fakta-fakta serangan ini, kami tahu bahwa serangan itu dilakukan oleh kelompok militan radikal yang didukung Iran yang beroperasi di Suriah dan Irak,” ungkap Biden.

“Jangan diragukan, kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak pada waktu dan cara yang kami pilih,” tambah Biden. Seorang pejabat AS mengungkapkan, selain tiga tentara tewas, terdapat 34 personel lainnya dievaluasi untuk kemungkinan cedera otak traumatis.

Seorang pejabat AS lainnya mengatakan, di antara para korban luka, ada sebagian kecil yang berada dalam kondisi kritis. Namun mereka semua stabil.

Serangan terhadap tentara AS di Yordania kian memanaskan situasi di kawasan Timur Tengah. Sebab perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza sudah meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. 

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement