Jumat 19 Jan 2024 17:30 WIB

Beda Hasrat Arab Saudi dan Israel Terkait Normalisasi Hubungan

Saudi dan Israel memiliki pandangan yang berbeda terkait penyelesaian Gaza.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Presiden Israel Isaac Herzog
Foto: AP Photo/Saul Loeb
Presiden Israel Isaac Herzog

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Presiden Israel Isaac Herzog mengatakan, normalisasi diplomatik antara negaranya dan Arab Saudi akan menjadi elemen kunci untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza. Hal itu disampaikan saat Herzog berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (18/1/2024).

“Kondisi ini masih rumit, rapuh, dan akan memakan waktu lama. Namun menurut saya ini sebenarnya merupakan peluang untuk bergerak maju di dunia dan kawasan menuju masa depan yang lebih baik,” kata Herzog menyinggung tentang krisis di Gaza. Dia pun menyinggung tentang solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Baca Juga

“Ketika sebuah negara melangkah maju dan menyatakan ‘solusi dua negara’, pertama-tama mereka harus menjawab pertanyaan awal, yang merupakan pertanyaan inti bagi umat manusia, apakah kami benar-benar mendapatkan keamanan? Warga Israel kehilangan kepercayaan terhadap proses perdamaian karena mereka melihat bahwa teror diagung-agungkan oleh negara-negara tetangga kita,” ucap Herzog.

“Jika Anda bertanya kepada rata-rata orang Israel saat ini tentang kondisi mental mereka, tidak ada orang waras yang mau memikirkan apa yang akan menjadi solusi dari perjanjian perdamaian,” tambah Herzog.

Dia mengatakan, penghancuran Hamas akan memungkinkan masa depan lebih baik bagi warga Palestina yang merupakan tetangga Israel. Saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Kamis lalu, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS) Putri Reema binti Bandar mengatakan, negaranya tidak akan melanjutkan pembicaraan tentang normalisasi diplomatik dengan Israel.

Pembicaraan itu hanya dapat dilanjutkan jika perang di Jalur Gaza dihentikan. “Saya pikir hal yang paling penting untuk disadari adalah (Saudi) belum menempatkan normalisasi sebagai inti kebijakannya. Hal ini menempatkan perdamaian dan kemakmuran sebagai inti kebijakannya,” kata Putri Reema, dikutip laman Al Arabiya.

Dia menekankan, posisi Saudi terkait isu tersebut sudah jelas. “Ketika terjadi kekerasan di lapangan dan pembunuhan masih terjadi, kita tidak dapat membicarakannya (normalisasi diplomatik dengan Israel-red) pada hari berikutnya,” ucapnya.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan, negaranya siap mengakui eksistensi Israel jika Palestina menjadi negara merdeka. Menurutnya, kemerdekaan Palestina akan membuka jalan bagi terciptanya perdamaian di kawasan.

“Kami sepakat bahwa perdamaian regional mencakup perdamaian bagi Israel. Namun hal itu hanya dapat terjadi melalui perdamaian bagi Palestina melalui negara Palestina,” kata Pangeran Faisal saat berpartisipasi dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia, Selasa (16/1/2024).

Ketika ditanya apakah Arab Saudi akan mengakui Israel sebagai bagian dari perjanjian politik yang lebih luas, Pangeran Faisal menjawab, “Tentu saja.” Dia menambahkan, menjaga perdamaian regional melalui pembentukan negara Palestina adalah sesuatu yang sudah Saudi kerjakan bersama pemerintah AS. “Dan ini lebih relevan dalam konteks Gaza,” ujarnya.

Pangeran Faisal mengatakan, ada jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi kawasan, bagi Palestina, dan bagi Israel, yaitu perdamaian. Dia menegaskan, Saudi berkomitmen penuh untuk mewujudkan hal tersebut. “Gencatan senjata di semua pihak harus menjadi titik awal bagi perdamaian permanen dan berkelanjutan, yang hanya dapat terjadi melalui keadilan bagi rakyat Palestina,” ucap Pangeran Faisal.

Dalam sebuah wawancara radio dengan BBC pada 9 Januari 2024 lalu, Duta Besar Arab Saudi untuk Inggris Pangeran Khalid bin Bandar mengungkapkan, negaranya sudah hampir menyepakati normalisasi diplomatik dengan Israel sebelum pecahnya perang di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023. “(Kesepakatan normalisasi-red) sudah dekat, tidak ada keraguan,” ujarnya.

Namun, Pangeran Khalid mengatakan, negaranya menghentikan pembicaraan normalisasi yang dimediasi AS setelah pecahnya perang di Gaza. Kendati demikian, Pangeran Khalid menyebut Saudi masih yakin untuk membangun hubungan dengan Israel meski jumlah korban akibat perang di Gaza sangat menyedihkan.

Pangeran Khalid meyakinkan bahwa normalisasi dengan Tel Aviv tidak akan mengorbankan rakyat Palestina. “Jadi meskipun kami masih percaya pada normalisasi, hal ini tidak akan merugikan rakyat Palestina,” ucapnya.

Pada 8 Januari 2024 lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman menerima kunjungan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di AlUla. Selain membahas perkembangan situasi di Jalur Gaza, Blinken menyebut dia dan Pangeran MBS turut membahas perihal potensi normalisasi diplomatik Saudi-Israel.

Dalam sambutannya kepada pers, Blinken mengatakan, topik tentang normalisasi diplomatik dengan Israel dibahas dalam pertemuannya dengan Pangeran MBS. “Saya dapat memberi tahu Anda hal ini, ada kepentingan yang jelas di sini untuk mencapai hal tersebut, ada kepentingan yang jelas di kawasan ini untuk mencapai hal tersebut,” ucapnya.

“Tapi hal ini (normalisasi diplomatik Saudi-Israel) mengharuskan konflik di Gaza diakhiri, dan hal ini juga jelas memerlukan adanya jalan praktis menuju negara Palestina,” tambah Blinken, dikutip laman Al Arabiya. Sebelum perang di Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, isu normalisasi diplomatik antara Saudi dan Israel sudah berembus kuat. Pangeran MBS pun telah mengakui secara terbuka tentang adanya pembicaraan mengenai hal itu.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement