Selasa 16 Jan 2024 23:59 WIB

Pesantren di Sukabumi Dilibatkan Jadi Percontohan Budi Daya Sidat

Pesantren Modern Assalam Putri terlibat dalam budidaya sidat

Pesantren Modern Assalam Putri terlibat dalam budidaya sidat
Foto: Antara
Pesantren Modern Assalam Putri terlibat dalam budidaya sidat

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi menjadikan Pondok Pesantren Modern Assalam Putri di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sebagai role model atau percontohan budi daya sidat pada Program Sistem Budi Daya Sidat Tersegmentasi dengan Biaya Murah (Sibulat Merah).

"Pengembangan usaha perikanan melalui budi daya sidat yang dilakukan di ponpes ini merupakan percontohan bagi warga Kabupaten Sukabumi maupun luar daerah yang ingin lebih mendalami budi daya ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi ini," kata Bupati Sukabumi Marwan Hamami, di Sukabumi, Selasa (16/1/2024).

Baca Juga

Menurut Marwan, Program Sibulat Merah ini merupakan inovasi Pemkab Sukabumi dengan melibatkan Ponpes Modern Assalam untuk mengembangkan budi daya sidat dengan biaya terjangkau atau murah.

Adapun lahan yang digunakan untuk menjalankan program tersebut berada di lahan milik Ponpes Modern Assalam seluas sekitar 2 ribu meter persegi.

Pihaknya pun optimistis inovasi program pengembangan potensi perikanan ini bisa berjalan dengan lancar dan berhasil, sehingga ke depan lokasi budidaya sidat di ponpes tersebut bisa menjadi tujuan pembelajaran.

Tidak hanya itu, program ini untuk untuk merealisasikan program santripreneur dan one pesantren one product (OPOP), sehingga hasilnya selain bisa dimanfaatkan untuk menambah asupan gizi para santri maupun santriwati juga sebagai ladang usaha yang menjanjikan.

Apalagi sidat merupakan komoditas ekspor yang pasarnya masih terbuka lebar, bahkan beberapa negara seperti Jepang masih kekurangan pasokan, sehingga pangsa pasar ini harus benar-benar dimanfaatkan.

Selain itu, program yang baru saja diluncurkan tersebut tidak hanya sebatas membudidayakan sidat, tetapi pihaknya telah menyiapkan pemasaran melalui perusahaan umum daerah (perumda) dan melibatkan industri lain yang bisa menampung sidat.

"Kami meyakini sidat ini tidak akan sulit untuk dipasarkan apalagi Jepang maupun Korea Selatan masih tinggi permintaannya. Tentunya peluang usaha yang ada harus dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat," katanya pula.

Pada sisi lain, Marwan mengatakan Program Sibulat Merah ini merupakan inovasi dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produk perikanan. Dengan demikian, usaha perikanan dengan komoditas sidat ini tidak hanya didominasi oleh perusahaan besar, tetapi juga harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Sukabumi.

Dalam menjalankan program tersebut selain menggandeng Ponpes Modern Assalam, juga melibatkan masyarakat sekitar agar terlibat langsung dalam proses budi daya serta bisa menyerap ilmunya.

Baca juga: Golongan yang Gemar Membaca Alquran, Tetapi Justru tidak Mendapat Syafaatnya

Pimpinan Ponpes Modern Assalam KH Encep Hadiana mengatakan sidat yang telah dibudidayakan oleh para santrinya tersebut dijadikan panganan seperti kue brownies dengan bahan baku utamanya berasal dari daging sidat.

Pemilihan ponpes yang dipimpinnya itu untuk menjalankan program dari Pemkab Sukabumi tentunya akan dijalankan sebaik mungkin, karena merupakan amanah. Tentunya ia optimistis dengan adanya bantuan itu budi daya sidat bisa lebih maksimal dan menghasilkan pendapatan yang terus meningkat.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement