Selasa 16 Jan 2024 17:09 WIB

Perang Gaza Picu Pengungsian Rakyat Palestina Terbesar Sejak Nakba

Saat ini penduduk Gaza sudah terkonsentrasi di wilayah selatan.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Seorang wanita Palestina berteriak histeris karena serangan udara Israel di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Kamis, (7/12/2023).
Foto: AP Photo/Mohammed Dahman
Seorang wanita Palestina berteriak histeris karena serangan udara Israel di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Kamis, (7/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan, agresi Israel ke Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama 100 hari telah menyebabkan pengungsian terbesar rakyat Palestina sejak peristiwa Nakba pada 1948. Dari 2,3 juta penduduk Gaza, 1,9 juta di antaranya telah mengungsi dan tinggal di kamp-kamp pengungsian.

“100 hari dalam 100 detik. Ini merupakan pengungsian terbesar rakyat Palestina sejak tahun 1948,” kata UNRWA lewat akun X (Twitter) resminya, dikutip laman kantor berita Palestina, WAFA, Selasa (16/1/2024).

Baca Juga

“Seluruh generasi anak-anak mengalami trauma, ribuan orang terbunuh, cacat, dan menjadi yatim piatu. Banyak orang hidup dalam keadaan yang tidak dapat ditinggali,” tambah UNRWA.

Bulan lalu, Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini menuduh Israel berusaha mengusir penduduk Palestina di Jalur Gaza ke Mesir. Dalam sebuah opini di Los Angeles Times yang diterbitkan 9 Desember 2023, Lazzarini mengingatkan bahwa saat ini penduduk Gaza sudah terkonsentrasi di wilayah selatan.

 

Hal itu karena ketika pertempuran Israel-Hamas berkecamuk di utara, lebih dari satu juta warga diperintahkan mengungsi ke selatan. “PBB dan beberapa negara anggota, termasuk Amerika Serikat (AS), dengan tegas menolak pemindahan paksa warga Gaza keluar dari Jalur Gaza. Namun perkembangan yang kita saksikan menunjukkan adanya upaya untuk memindahkan warga Palestina ke Mesir, terlepas dari apakah mereka tinggal di sana atau dimukimkan kembali di tempat lain,” kata Lazzarini.

Dia mengungkapkan, kehancuran yang meluas di wilayah utara dan gelombang pengungsian yang diakibatkannya adalah tahap pertama dari skenario seperti itu. Sementara memaksa warga sipil Gaza keluar dari kota Khan Younis dan mendesak mereka lebih dekat ke perbatasan Mesir adalah tahap berikutnya.

“Jika jalan ini terus berlanjut, yang mengarah pada apa yang oleh banyak orang disebut sebagai Nakba kedua, Gaza tidak akan lagi menjadi tanah bagi warga Palestina,” kata Lazzarini, merujuk pada eksodus atau pemindahan paksa 760 ribu warga Palestina selama perang yang bertepatan dengan berdirinya Israel pada 1948.

Sejauh ini, hampir 24 ribu warga Gaza telah terbunuh akibat agresi Israel. Kebanyakan dari korban meninggal merupakan perempuan dan anak-anak. Sementara korban luka melampaui 56 ribu orang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement