Senin 08 Jan 2024 11:37 WIB

7 Kontroversi Arya Wedakarna, Respons Dirjen HAM, dan Sikap Tegas Muhammadiyah Bali

Senator Bali Arya Wedakarna menyinggung jilbab budaya Timur Tengah

Rep: Mabruroh, Muhyiddin / Red: Nashih Nashrullah
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali terpilih Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.
Foto: Screenshot
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali terpilih Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemilik nama panjang Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa atau yang kerap disapa Arya Wedakarna, belakangan ini menjadi buah bibir di masyarakat. 

Kontroversinya kali ini karena menyinggung umat Islam, mengenai larangan penggunaan jilbab bagi pegawai di Bali. 

Baca Juga

Kontroversi yang dilakukan senator asal Bali itu, ternyata bukan kali pertama. Sejak menjabat sebagai anggota DPD Bali, Arya Wedakarna kerap dilaporkan ke Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPD maupun ke Kepolisian atas ocehan-ocehannya yang bernada Islamofobia dan rasis. Berikut ini sederet kontroversi-kontroversi yang pernah dilakukan Arya Wedakarna. 

Pertama, mengaku sebagai Raja Majapahit

Mantan cover boy “Aneka Yes” itu pernah mengaku sebagai keturunan Raja Majapahit Bali dengan nama lengkap Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III His Royal Majesty King of Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX. 

Pengakuan itu disampaikannya pada 2009 lalu, tapi kemudian langsung dibantah oleh tokoh Bali setempat dan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Bali,  Arya Wedakarna dilaporkan ke Polda Bali. 

Kedua, menentang kehadiran bank syariah di Bali

Pada 2014 lalu, Arya mengeluarkan seruan demo kepada anak muda Bali untuk menolak kehadiran Bank Syariah di Bali. Melalui akun media sosialnya, mantan anggota boyband itu menuliskan seruan: 

“Aliansi Hindu Muda Indonesia dan Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) hari ini berdemonstrasi di depan Kantor Bank Indonesia Denpasar untuk moratorium/stop izin Bank Syariah di pulau seribu pura. Bersuaralah anak-anak muda Hindu. Pertahankan ekonomi Pancasila! Lanjutkan!!" tulis Arya.

Ketiga, provokator ormas menolak kedatangan UAS di Bali

Pada 2017, Arya juga diduga menjadi provokator penolakan safari dakwah Ustadz Abdul Somad di tanah Bali. Melalui akun media sosialnya, Arya bahkan menuding UAS anti pancasila. 

Buntut dari penolakan itu, anggota DPR asal Provinsi Riau, Lukman Edy melaporkan Arya Wedakarna ke kepolisian. Lukman Edy menganggap Arya Wedakarna sebagai dalang aksi penolakan dan demo terhadap UAS.

Keempat, nimbrung persoalan Baso A Fung

Arya Wedakarna ikut-ikutan nimbrung dalam kasus selebgram Jovi Adhiguna dan Baso A Fung Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Selebgram Jovi yang telah membuat konten di Baso A fung yang sudah bersertifikat halal, namun membawa kerupuk babi yang dibelinya di bandara. 

Karena khawatir alat makan di gerai Baso A Fung terpapar makanan nonhalal, maka pihak manajemen Baso A Fung  Bandara mengambil langkah menghancurkan semua peralatan makan mereka. 

Di situlah Arya masuk dengan menyebutkan bahwa tindakan yang dilakukan pihak manajemen yang melakukan penghancuran pada mangkuk dan piring dianggap menyinggung umat hindu setempat, hingga membuat Arya marah, dan mengirim surat kepada Dinas Perizinan Badung untuk memberikan teguran kepada Baso A Fung bandara Bali.

Kelima, dugaan menistakan...

 

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement