REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ribuan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) memadati Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026) pagi untuk menghadiri puncak peringatan Harlah ke-100 NU. Namun, dua figur penting yang sebelumnya disebut-sebut akan hadir, yakni Presiden RI Prabowo Subianto dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, tidak tampak di lokasi acara.
Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan hadir dalam peringatan satu abad Masehi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tidak terlihat hingga acara dimulai.
Kursi VIP yang disiapkan bagi kepala negara pun tampak kosong. Hal serupa juga terjadi pada Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar selaku pemimpin tertinggi NU yang tidak terlihat mendampingi tamu penting di meja kehormatan.
Berdasarkan pantauan Republika di lokasi, pengamanan acara berlangsung sangat ketat. Sejak pagi, Nahdliyin yang memasuki kawasan Istora Senayan harus melewati pemeriksaan body checking oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Bahkan, anjing pelacak turut disiagakan di sekitar area acara.
Meski demikian, absennya Presiden dan Rais Aam tidak menyurutkan antusiasme warga NU. Acara tetap berlangsung khidmat dengan dihadiri sejumlah pejabat negara, tokoh nasional, serta jajaran pengurus NU dari berbagai daerah.
Sejumlah tokoh yang tercatat hadir antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Hadir pula para duta besar negara sahabat, Mustasyar PBNU Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, serta perwakilan partai politik. Diantaranya, Ketum PPP, Muhamad Mardiono dan Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf tampak menyaksikan langsung jalannya acara bersama jajaran pengurus PBNU lainnya, seperti Waktum PBNU KH Amin Said Husni, Rais Syuriyah PBNU KH Ali Marbun, dan Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori. Namun, Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf tidak terlihat mendampinginya.
Turut hadir pengurus badan otonom dan lembaga NU, perwakilan PWNU dan PCNU se-Indonesia, serta para kiai, nyai, dan habaib dari berbagai daerah.




