Kamis 30 Nov 2023 22:34 WIB

Malaysia Segera Buka Pusat Rehabilitasi Islam Pertama untuk Kaum LGBTQ

LGBTQ dianggap ilegal dan tidak diakui oleh pemerintah Malaysia.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
Simbol LGBT (ilustrasi).
Foto: Republika
Simbol LGBT (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Malaysia adalah salah satu negara yang menentang keras LGBTQ. Seksualitas non-heteroseksual dianggap ilegal dan tidak diakui oleh pemerintah Malaysia.

Dilansir dari Malay Mail, Kamis (30/11/2023), dalam Islam, hubungan seksual sesama jenis merupakan bentuk penyimpangan dan dengan tegas diharamkan dalam ajaran Islam. Karenanya, Pemerintah Johor sedang dalam proses mendirikan sebuah pusat untuk merehabilitasi mereka yang melakukan hubungan sesama jenis.

Baca Juga

Ketua Komite Urusan Agama Islam Johor Mohd Fared Mohd Khalid mengatakan pusat rehabilitasi ini akan menjadi yang pertama didirikan di Malaysia. “Saat ini pendirian balai tersebut sedang dalam proses penyiapan aset di kantor, serta asrama peserta pelatihan putra dan putri,” kata Fared di hadapan Majelis Legislatif Johor.

Pusat ini diharapkan dapat beroperasi penuh pada Juli tahun depan. Belum ada penjelasan rinci mengenai pusat rehabilitas ini, namun pusat ini nantinya akan memiliki fasilitas yang terdiri dari pengobatan psikologis atau konseling spiritual.

 

Terapi konversi terdiri dari pengobatan psikologis atau konseling spiritual untuk mengubah orientasi seksual seseorang dari homoseksual atau biseksual menjadi heteroseksual. Selain itu, Mohd Fared mengatakan, Dewan Agama Islam Johor mengalokasikan 15 juta ringgit (Rp 49,8 miliar) per tahun kepada organisasi Pertubuhan Kebajikan Saudara Kita untuk melaksanakan berbagai kegiatan dakwah, termasuk bagi para mualaf.

Ia mengatakan, total 2.845 orang yang sebelumnya beragama lain, telah terdaftar sebagai Muslim sejak 2020. Dia memberikan rincian tahunan sebanyak 728 orang pada 2020, diikuti oleh 688 orang pada 2021, 796 orang pada 2022, dan 633 orang dari bulan Januari tahun ini.

Dia mengatakan di Johor, para mualaf baru berasal dari berbagai ras dan kebangsaan dan membagi mereka menjadi etnis China, etnis India, Iban, Bidayuh, Kadazan, Orang Asli serta orang asing dari Filipina dan Vietnam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement