Senin 20 Nov 2023 18:22 WIB

Santri Berperan Strategis Lancarkan Hubungan Diplomasi RI dan Cina

Santri banyak berkontribusi membangun negeri.

Ilustrasi santri sedang mengaji.
Foto: Dok Republika
Ilustrasi santri sedang mengaji.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rois Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok, Ahmad Syaifuddin Zuhri mengatakan bahwa santri memiliki penting dalam hubungan antara Republik Indonesia dan China, terutama dalam menghilangkan persepsi-persepsi negatif di masyarakat di kedua negara.

"Peran santri sangat penting dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok terutama dalam menghilangkan persepsi-persepsi negatif yang masih menghinggapi di sebagian masyarakat Indonesia maupun masyarakat di Tiongkok”, kata Ahmad Syaifuddin dalam keterangan tertulis PCINU Tiongkok di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

PCINU Tiongkok dan Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta menggelar seminar nasional bertajuk “Diplomasi Santri dalam Relasi Indonesia Tiongkok Terkini” di UIN Jakarta pada Selasa (14/11).

Pada seminar tersebut, Ahmad Syaifuddin juga menjelaskan keterlibatan PCINU Tiongkok dalam menciptakan pemahaman yang lebih baik bagi kedua negara.

PCINU Tiongkok yang berdiri sejak 2017 berupaya menjadi pihak yang berdiri di tengah yang berinteraksi di level elite maupun masyarakat langsung kedua negara, katanya.

"Tentunya tantangan juga terbentang. Peran dan aktivitas santri Indonesia di Tiongkok juga sekarang mulai menjadi bahan kajian riset tak hanya di Indonesia saja tapi juga di luar negeri," lanjutnya.

Sementara itu, salah satu pembicara seminar yakni Kepala LKBN Antara Biro Beijing periode 2017-2023, M. Irfan Ilmie, juga berbagi pandangan tentang hubungan Indonesia-China dari perspektif ekonomi, politik, dan budaya.

“Dahulu, peran dalam diplomasi sepenuhnya terletak pada negara dan investor yang memiliki akses. Namun, tiba-tiba ada santri. Peran santri dalam diplomasi ini menciptakan dimensi baru yang mengubah paradigma bahwa hubungan antarnegara tidak hanya terbatas pada tingkat pemerintah dan investor, melainkan melibatkan individu biasa dalam pertukaran budaya dan kemitraan yang berarti”, katanya.

Menurut Ketua Tanfidziyah PCINU Tiongkok, Kaula Fahmi, seminar nasional itu diselenggarakan secara hibrida dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan mahasiswa, akademisi, pengusaha Indonesia dan China, jurnalis dan lain sebagainya dalam rangka meramaikan Hari Santri Nasional 2023.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement