Senin 16 Oct 2023 20:23 WIB

Museum Palestina di Washington, Apa Isinya? 

Terdapat Museum Palestina di Washington.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Museum baru Palestina berada di atas bukit di kawasan Wst Bank.
Foto: NY Times
Museum baru Palestina berada di atas bukit di kawasan Wst Bank.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Beberapa artefak mengagumkan dipamerkan di Museum Rakyat Palestina (MPP) yang ada di Wahinton DC, seperti vas keramik berlapis kaca yang berasal dari tahun 300 SM, kendi kaca biru buatan Hebron sekitar tahun 1960, kartu identitas usang bertanda “Palestina", selembar prangko berwarna oranye, dan gaun sutra bersulam rumit. Semua itu berasal dari awal tahun 1900-an.

MPP adalah tempat bagi lusinan benda budaya yang dikumpulkan dan disumbangkan dari seluruh dunia. Bersama-sama mereka menceritakan kisah diaspora dan tekad serta kebanggaan terhadap budaya Palestina yang tersebar di hampir setiap negara di dunia.

Baca Juga

Pendiri dan Direktur MPP, Bshara Nassar (31 tahun) dan penduduk asli Betlehem, mengemukakan ide untuk membuat MPP tidak lama setelah pindah ke ibu kota Washington pada 2011 lalu.

“Saya sangat kagum dengan semua museum, tugu peringatan, dan monumen di sini. Begitu banyak imigran datang ke Washington dan membangun institusi yang bisa menceritakan kisah mereka,” kata Nassar dilansir dari Aramcoworld, Senin (16/10/2023).

 

"Tetapi saya tidak dapat menemukan museum atau ruang yang bisa berbagi kisah kami sebagai orang Palestina, jadi saya mulai mengerjakan ide tersebut dan mempertanyakan apa yang diperlukan," jelas dia.

Pada Juni 2019 lalu, Nassar membuka MPP untuk umum sebagai salah satu dari tiga museum di dunia yang didedikasikan untuk sejarah dan budaya sekitar 13 juta orang Arab Palestina. Museum Palestina dekat Ramallah di Tepi Barat dan Museum Palestina di Woodbridge, Connecticut, adalah satu-satunya lokasi lain di mana artefak serupa dipajang.

Untuk menampilkan beragam ekspresi seni Palestina selain artefak sejarah, Nassar mengundang sumbangan dari seniman Palestina di seluruh dunia. Di antara mereka yang berkontribusi adalah seniman media campuran Ahmed Hmeedat, yang tumbuh di Dheisheh, sebuah kamp pengungsi di selatan Betlehem, dan memegang gelar di bidang hak asasi manusia dan hukum internasional. 

Seniman lainnya termasuk Manal Deeb, Mohammad Musallam, Dalia Elchaprbini dan Haya Zaatry, yang masing-masing menawarkan interpretasi budaya Palestina yang penuh warna dan bijaksana.

Nassar mengatakan, MPP dimulai dengan pameran pada 2015 di Adams Morgan yang menampilkan fotografi, lukisan, cerita dan video kehidupan Palestina. Beberapa minggu kemudian, universitas dan gereja di seluruh Amerika mulai bertanya tentang sponsorship.

Pameran ini berkembang, dan menjadi pameran keliling yang mengunjungi lebih dari 50 lokasi di seluruh Amerika sebelum kembali—secara permanen—ke lingkungan tempat pertama kali pameran tersebut diluncurkan.

Rumah MPP sekarang menjadi batu bata bertingkat di sudut jalan. Menurut Nassar, dana museum ini disumbangkan oleh keluarganya yang tidak disebutkan namanya, tapi sangat peduli terhadap orang-orang Palestina.

Dorongan Nassar untuk berbagi warisan dan kisah Palestina sudah berlangsung lama dan menjadi perhatian keluarga. Ia memperoleh gelar master dalam bidang transformasi konflik dari Eastern Mennonite University, tidak jauh dari DC. Pada 2014 ia pun mendirikan Proyek Memori dan Harapan Museum Nakba, yang menjadi katalis lain bagi MPP. 

Keluarga Nassar menjalankan sebuah peternakan pendidikan di Bethlehem yang disebut Tent of Nations, yang bertujuan untuk “membangun jembatan antar manusia, dan antara manusia dan tanah,” katanya.  Negara ini menjadi tuan rumah bagi para relawan dan menyelenggarakan kamp-kamp yang mengajarkan pendekatan penyelesaian konflik yang berpusat pada tanah dan tanah.

Keluarga Nassar menjalankan sebuah peternakan pendidikan di Bethlehem yang disebut Tent of Nations, yang bertujuan untuk membangun jembatan antar manusia, dan antara manusia dan tanah. Negara ini menjadi tuan rumah bagi para relawan dan menyelenggarakan kamp-kamp yang mengajarkan pendekatan penyelesaian konflik yang berpusat pada tanah.

Ketika pengunjung datang ke MPP, mereka akan disambut dengan desain tradisional Palestina dan interior batu khas Yerusalem. Pamerannya terbagi dalam beberapa bagian: “Masyarakat yang Luar Biasa”, “Nakba dan Diaspora”, “Pendudukan”, dan “Masyarakat yang Tangguh”

(Nakba dalam bahasa Arab berarti bencana, dan orang Palestina menggunakan kata tersebut untuk menandai perang tahun 1948 yang mengakibatkan 700 ribu warga Palestina mengungsi dan diusir.) 

Bagian terakhir, “Membuat Tanda Mereka,” menghormati para cendekiawan, sejarawan, penyair, pengusaha Palestina, feminis dan komedian.

Nassar berharap MPP akan menjadi inspirasi bagi generasi baru Palestina dan seluruh dunia. “Sulit bagi kita membayangkan masa depan yang berbeda dari apa yang kita jalani saat ini,” katanya.

“Jadi kami ingin menantang warga Palestina dan pengunjung untuk melihat masa depan dengan cara yang berbeda," ucap Nassar.

 

 

 

 

 

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement