Senin 24 Jul 2023 15:19 WIB

Band Pendukung LGBT Bikin Ulah di Malaysia, Kemenag Imbau Promotor Indonesia Jaga Moral

Band pro LGBT sebelumnya dijadwalkan manggung di Indonesia.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Vokalis band The 1975 Matty Healy. Sebelum melakukan ciuman gay, Healy berkali-kali terlibat kontrooversi, termasuk yang menyangkut Islam.
Foto: EPA-EFE/Carlos Ortega
Vokalis band The 1975 Matty Healy. Sebelum melakukan ciuman gay, Healy berkali-kali terlibat kontrooversi, termasuk yang menyangkut Islam.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Grup band asal Inggris, The 1975 baru-baru ini membuat ulah di Malaysia dengan mengkritik Pemerintah Malaysia terkait larangan LGBT. Bahkan, sang vokalis, Matty Healy secara terang-terang mencium gitarisnya yang laki-laki di atas panggung.

Untuk mengantisipasi kejadian yang serupa terjadi di Indonesia, Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Prof Kamaruddin Amin mengimbau kepada promotor di Indonesia untuk menyeleksi band atau seniman yang akan tampil di setiap event.

Baca Juga

Menurut dia, band yang akan tampil di Indonesia harus jelas sikapnya terhadap LGBT. Karena, LGBT tidak hanya bertentangan dengan agama, tapi juga dengan adat istiadat.

“LGBT tidak hanya bertentangan dengan agama, tapi juga dengan adat-istiadat bangsa kita. Kita harus bersama sama menjaga moral bangsa kita,” ujar Prof Kamaruddin saat dihubungi Republika.co.id, Senin (24/7/2023).

Dia mengatakan, setiap promotor konser musik di Indonesia harus berhati-hati sehingga ke depannya tidak ada band yang mempromosikan LGBT atau menampilkan perilaku LGBT di Indonesia.

“Ya betul (promotor harus seleksi band yang tampil). Menjaga moral bangsa agar dipertimbangkan dalam setiap ekspresi kita di ruang publik,” kata guru besar UIN Makassar ini.

Prof Kamaruddin menambahkan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai pihak yang berwenang mengeluarkan izin untuk penyelenggaraan konser musik juga memiliki pandangan yang sama terkait LGBT. Karena itu, menurut dia, Kemenprekraf juga harus mengingatkan kepada promotor yang ingin menggelar event musik di Tanah Air.

“Saya rasa kementrian lembaga memiliki awarness (kesadaran) dan pandangan yang sama,” kata Prof Kamaruddin.

Sebelumnya, band pendukung LGBT asal Inggris, The 1975 membuat heboh setelah aksi panggungnya di Malaysia pada Jumat (21/7/2023). Sang vokalis, Matty Healy mengkritik pemerintah Malaysia terkait larangan LGBT di negeri jiran itu.

“Saya tidak melihat perlunya mengundang 1945 ke sebuah negara dan kemudian mengatur dengan siapa kami boleh berhubungan seksual,” ujar Matty dalam sebuah video yang diunggah akun @bahasmusik, Ahad (23/7/2023).

Matty menyadari bahwa Malaysia merupakan negara yang religus. Namun, ia tetap menghina Pemerintah Malaysia. Di atas panggung, Matty Healy bahkan berciuman dengan pemain basnya yang laki-laki, Ross MacDonald.

The 1975 sendiri dijadwalkan akan manggung di Indonesia di acara musik We The Fest yang digelar di GBK Sport Complex, Jakarta pada Ahad (23/7/2023). Namun, karena ulahnya di Malaysia, konser The 1975 di Indonesia dibatalkan.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement