Rabu 21 Jun 2023 12:01 WIB

Langkah Pertama Sebagai Mualaf, Apa itu?

Menjadi mualaf merupakan jalan mendapatkan hidayah Allah.

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi mualaf belajar baca Alquran.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ilustrasi mualaf belajar baca Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang Mualaf asal AS Theresa Corbin Berbagi tips langkah pertamanya ketika menjadi mualaf.

Dilansir di About Islam, dia menemukannya dalam buju Mogahed. Namun apa yang ditemukan di antara sampul buku Mogahed tidak lebih dari retorika yang sama dan kata-kata kosong, tetapi pemahaman praktis tentang bagaimana hati bekerja dan bagaimana kita harus menjaganya dan memperlakukannya.

Baca Juga

"Saya menyadari proses merebut kembali hati ini seharusnya menjadi hal pertama yang saya lakukan ketika saya masuk Islam,"ujar dia.

Ketika dia mengucapkan syahadat sepertinya ada sejuta hal yang perlu dia pelajari dan lakukan lalu mengubah semuanya sekaligus.

Muncul pertanyaan yang tampaknya seperti bintang-bintang dan dia ingin memulai dengan cara yang benar. Namun melihat ke belakang, dia menyadari hanya ada satu hal yang harus dia fokuskan dalam beberapa hari, pekan, dan bahkan bulan yakni hati sebagai sumber iman.

Pertama, niat

Sebagian besar mualaf sering diberitahu bahwa untuk menjalani cara hidup Islami mereka harus mulai dengan ekspresi lahiriah seperti berpakaian lebih sopan dan atau menumbuhkan janggut. Dan kita harus belajar menjaga kesopanan kita seperti yang Allah perintahkan. Namun seringkali orang (muslim baru dan komunitas) terlalu fokus pada penampilan dan lupa bahwa menata hati harus didahulukan.

Tanpa...Lihat halaman berikutnya >>>

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ
Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah.

(QS. Al-Hajj ayat 5)

Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement