Selasa 23 May 2023 19:33 WIB

Kita Kerap Cari Solusi Masalah Dunia, Padahal Obatnya Ada di Dekat Kita: Orang Tua

Di antara obat penyakit hati adalah berbakti kepada orang tua

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Nashih Nashrullah
Anak-anak mencium kaki ibunya (ilutrasi). Di antara obat penyakit hati adalah berbakti kepada orang tua
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Anak-anak mencium kaki ibunya (ilutrasi). Di antara obat penyakit hati adalah berbakti kepada orang tua

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Terdapat dua penyakit yang dapat dijangkit oleh manusia, yakni yang bersifat fisik dan hati. Kedua penyakit ini memiliki karakter yang berbeda, yaitu jika penyakit yang bersifat fisik maka akan mengggurkan dosa apabila mampu menghadapinya dengan sabar. 

Mengutip Ibnu Qayyim, Ustadz Oemar Mita dalam Majelis Ilmu Rawamangun Masjid Al-Falah, Jakarta sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika, sebaliknya penyakit hati akan menambah dosa dan penyakitnya apabila tidak mampu mengatasinya. Salah satu penyakit hati tersebut adalah sikap kasar baik perbuatan ataupun tutur kata. 

Baca Juga

Ustadz Oemar menekankan agar umat Muslim senantiasa mengerti obat dari penyakit yang dijangkitnya. Dia mengingatkan tentang penyakit kasar manusia ketika mendapatkan problem kehidupan. Dia meminta umat Muslim mengetahui obat dari berbagai penyakit yang diturunkan Allah SWT. 

"Di kala Allah menurunkan penyakit baik hati maupun jasad kecuali Allah, pasti Allah turunkan kepada kita obatnya," ujar dia sembari mengutip surat Maryam ayat 32 yang berbunyi: 

 

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا "Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka." 

Menurut dia, para ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini mengisahkan tentang kelembutan sikap Maryam, baik tutur kata maupun perbuatannya. 

Perbuatan yang bisa membuat seseorang menjadi lembut, yakni ketika dia berbuat baik kepada ibu. Maka, Allah SWT tidak akan menjadikan orang tersebut sombong dan celaka. 

Untuk itu, kata Ustadz Oemar, ketika terdapat seseorang kasar dalam perbuatan dan ucapannya perlu dilihat terkait hubungan dengan ibunya.

"Di sini mengerti tentang faedah bahwa ketika dia kasar, dia pasti ada masalah dengan ibunya. Kalau baik kepada ibunya maka Allah SWT tidak akan membuat seseorang kasar dan celaka. Tidak ada kesalehan kecuali berbanding lurus dengan tingkat bakti kepada orang tua," kata Ustadz Oemar. 

عَن أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم قال  : كلُّ ذنوبٍ يؤخِرُ اللهُ منها ما شاءَ إلى يومِ القيامةِ إلَّا البَغيَ، وعقوقَ الوالدَينِ، أو قطيعةَ الرَّحمِ، يُعجِلُ لصاحبِها في الدُّنيا قبلَ المَوتِ 

Hal ini sesuai dalam hadist dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda,” Setiap  dosa akan di akhirkan (ditunda) balasannya oleh Allah SWT hingga hari kiamat, kecuali al-baghy (zalim), durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturahim, Allah akan menyegerakan di dunia sebelum kematian menjemput.” (HR Al Hakim, Al Mustadrak No 7345).

Oleh karena itu, sabda tersebut menandakan bahwa berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, merupakan sesuatu yang sangat penting. Itu pula yang membuat para ulama salaf memperhatikan sungguh-sungguh muamalah kepada seorang ibu. 

Imam Ibnu Abbas mengatakan, ada tiga ayat Allah SWT diturunkan di mana pengamalan ketiga ayat tersebut tidak Allah SWT terima sampai tiga amal penyertanya dilakukan, yaitu tidak akan diterima ibadah sholat apabila belum menunaikan zakat. 

Baca juga: Mualaf Theresa Corbin, Terpikat dengan Konsep Islam yang Sempurna Tentang Tuhan

Kemudian ketataan seseorang kepada Allah SWT tidak akan diterima sampai umat Muslim juga mencintai Rasulullah SAW. Rasa syukur manusia pun tidak akan diterima sebelum terlebih dahulu bersyukur kepada orang tua. 

"Makanya, musibah yang paling besar itu setelah meninggalkan rasul. Kedua meninggalnya ibu kita. Kata Ibnu Umar mengapa? Tertutup semua pintu kebaikan setelah orang tua kita meninggal. Beruntung yang masih ditemani ibunya karena itu cara kita untuk memperbaiki sikap kita," ujar dia. Jika seorang ibu sudah meninggal, seorang anak disarankan untuk memperbanyak sedekah atas nama ibunya. 

Sebab, Ustadz Oemar meyakini sedekah tersebut akan sampai kepada ibunya yang sudah meninggal. Ustadz Oemar juga mengingatkan tentang penyakit yang bisa dialami oleh manusia, yakni syahwat yang menguasai hati.

Dan syahwat pun tidak bisa dibunuh, tapi hanya dapat menghalanginya. Syahwat sengaja diciptakan oleh Allah untuk penghalang manusia beribadah.  

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement