Selasa 16 May 2023 19:14 WIB

MUI Pertimbangkan Perketat Kantor Pusat tanpa Persulit Umat Datang

Kantor MUI diteror orang dari Lampung beberapa waktu lalu.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Suasana kantor Majelis Ulama Indonesia pascainsiden penembakan di Jakarta, Selasa (2/5/2023). Dalam insiden tersebut pelaku penembakan tewas dan dua orang lainnya yakni resepsionis MUI mengalami luka pada bagian punggung dan pegawai MUI lainnya terluka akibat menabrak pintu saat menghindari tembakan tersebut. Dalam peristiwa tersebut, pihak Kepolisian masih melakukan penyidikan terkait pelacakan latar belakang pelaku penembakan di Gedung MUI tersebut.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Suasana kantor Majelis Ulama Indonesia pascainsiden penembakan di Jakarta, Selasa (2/5/2023). Dalam insiden tersebut pelaku penembakan tewas dan dua orang lainnya yakni resepsionis MUI mengalami luka pada bagian punggung dan pegawai MUI lainnya terluka akibat menabrak pintu saat menghindari tembakan tersebut. Dalam peristiwa tersebut, pihak Kepolisian masih melakukan penyidikan terkait pelacakan latar belakang pelaku penembakan di Gedung MUI tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang dakwah dan ukhuwah KH Cholil Nafis menyampaikan, MUI sedang mempertimbangkan model penjagaan keselamatan para pengurus pusat MUI dan seluruh staf, tanpa mempersulit umat saat datang ke kantor MUI Pusat.

"Kami lagi mempertimbangkan menjaga keselamatan pengurus dan staf di sini. Kami berpikir bagaimana lebih memperketat keamanan, tetapi tetap menjadi rumah umat. Jangan sampai kita (MUI) ini membuat sulit umat ke sini," kata dia saat di kantor MUI, Jakarta, Selasa (16/5/2023).

Baca Juga

Salah satu yang dipertimbangkan, Kiai Cholil menjelaskan, yaitu ketika ada orang baru yang tampak mencurigakan dan ingin menemui pengurus MUI, tidak dibolehkan membawa tas ransel. Sebab, dikhawatirkan membawa senjata tajam atau barang berbahaya lainnya.

"Tetapi, kami memang sedang mendiskusikan bagaimana memperketat keamanan, tetapi tidak mengganggu efektivitas pelayanan termasuk orang-orang yang ke sini seperti at home (nyaman seperti di rumah)," ujarnya.

 

Soal apakah setiap pengurus MUI Pusat akan didampingi pengawal, Kiai Cholil mengatakan, hal tersebut tidak termasuk dalam pertimbangan, sebab, masing-masing pengurus MUI biasanya sudah memiliki ajudan.

"Ya itu kembali ke semula. Seperti saya tidak punya ajudan. Hanya sopir. Saya sudah dijaga (malaikat) Raqib dan Atid. Dan Allah yang Melindungi," kata dia.

Bila pengurus MUI Pusat memiliki pengawal, menurut Kiai Cholil, maka tidak ada bedanya dengan pejabat. Misalnya Wapres RI KH Ma'ruf Amin yang merupakan sosok ulama, kini harus melalui protokoler untuk dapat menemuinya.

"Masak semua ulama seperti begitu, kan kasihan umat. Kami, seperti biasanya, pada aktivitas yang dekat dengan umat. Malah kalau begitu (menggunakan pengawal), itu kan pejabat," ujarnya.

Pada 2 Mei 2023 lalu, di kantor MUI Pusat terjadi penembakan sehingga pintu kaca di lobi kantor pecah. Penyidik Polda Metro Jaya terus menyelidiki kasus penembakan di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) oleh Mustofa NR (60 tahun). Puluhan saksi telah dimintai keterangan terkait dengan peristiwa pada Selasa (2/5/2023) siang tersebut. Ada 19 orang saksi yang diperiksa.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement