Ahad 19 Mar 2023 05:50 WIB

Mualaf Fano, Dulu Benci dan Caci Maki Adzan Tapi Kini Malah Merindukan Kemerduannya 

Mualaf Delfano Charies tak ingin menjelekkan agama lain

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti / Red: Nashih Nashrullah
Delfano Charies.  Mualaf Delfano Charies tak ingin menjelekkan agama lain
Foto: Dok Istimewa
Delfano Charies. Mualaf Delfano Charies tak ingin menjelekkan agama lain

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Sebelum mualaf, pemilik nama lengkap Delfano Charies ini mengaku tidak meyakini agama apapun juga tidak menjalankan ibadah. Begitu juga selama dia mempelajari Islam sejak 2015. 

Perkenalannya dengan Islam bermula dari bisnis travel umroh yang dijalakannya. Dia sempat heran, mengapa Muslim tertarik bepergian ke tempat itu. 

Baca Juga

Fano, begitu akrab disapa, pernah mengalami kekosongan diri yang luar biasa. Fano gelisah dan merasa depresi kemudian menghubungi teman-temannya. Tetapi tidak ada yang dtaang ke rumah.  

Fano memutuskan untuk menyetir seorang diri berkeliling dan tebersit bahwa yang dia butuhkan saat itu adalah Allah SWT. Dia kembali ke rumah dan menghubungi sahabat yang diakuinya adalah orang yang taat beribadah.  

 

Temannya kemudian datang dan keduanya berdiskusi. Setelah yakin Fano kemudian bersyahadat di hadapan temannya di rumah.  

Mereka terus melanjutkan diskusi tentang Islam hingga subuh tiba. Teman Fano yang bernama Benny ini kemudian mengajaknya untuk sholat subuh ke masjid. 

Saat itu adalah sholat pertamanya setelah menjadi mualaf. Meski dia sebelumnya bukan Muslim, namun Fano telah hafal surat Al Fatihah.  

Setelah bersyahadat, Fano kemudian bersyahadat kembali secara resmi di Masjid At Taufiq Semarang bersama komunitas Cah Hijrah. Setelah memeluk Islam, Fano rutin mengikuti kajian di masjid tersebut.  

Bersyukur, setelah mualaf, Fano juga mendapatkan panggilan Allah untuk umrah tepat lima hari sebelum Saudi menetapkan lockdown karena pandemi Covid-19.

Baca juga: Perang Mahadahsyat akan Terjadi Jelang Turunnya Nabi Isa Pertanda Kiamat Besar?

Fano menceritakan pengalamannya ketika umroh. Ada rasa yang berbeda meski sebelumnya dia sering berkunjung. Tapi kali ini dia pergi ke tanah suci untuk beribadah bagi dirinya sendiri bukan sebagai pendamping.  

"Ada kenikmatan saat sholat yang rasanya berpuluh kali lipat ketika hanya sholat di rumah, pengalaman ini saya rasakan saat sholat di Masjidil Haram," jelas dia dikutip dari Youtbe Cahhijrah.  

Rasa haru dan hati bergetar selalu Fano rasakan ketika sholat di Masjidil Haram terutama saat sholat shubuh. Ada kerinduan menanti suara azan, berbeda ketika Fano belum menjadi Muslim. 

"Aku sempat menghina adzan dan menganggap adzan itu sangat mengganggu. Adzan terlalu berisik bagi aku dahulu, tetapi kini suara adzan adalah suara yang aku rindukan," jelas dia.  

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement