Selasa 17 Jan 2023 14:52 WIB

FPAG Jateng-DIY Silaturahim dan Tajammu' di Pesantren Tazakka

FPAG berkomitmen menguatkan dan menyebarluaskan informasi muadalah pesantren.

Sejumlah kiai pengasuh pesantren yang tergabung dalam Forum Pesantren Alumni Gontor bersilaturahim di Pesantren Tazakka Bandar Batang Jawa Tengah.
Foto: Tazakka
Sejumlah kiai pengasuh pesantren yang tergabung dalam Forum Pesantren Alumni Gontor bersilaturahim di Pesantren Tazakka Bandar Batang Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah kiai Pengasuh Pesantren Alumni Gontor (FPAG) se-Jawa Tengah dan DIY mengadakan silaturahim dan tajammu' di Pondok Modern Tazakka, Batang pada Ahad (15/1). Acara dilaksanakan di Aula Rabithah PM Tazakka. 

Tajammu' hari itu dihadiri kurang lebih 150an orang yang merupakan pengasuh pesantren dan para asatidz yang mewakili 60an pesantren alumni Gontor di wilayah Jawa Tengah dan DIY. 

Tajammu' yang dikemas dengan silaturahim dan seminar tersebut menghadirkan tokoh alumni Gontor senior Dr. KH. Habib Chirzin, M.A. sebagai keynote speaker. Panitia juga menghadirkan Dr. Agus Budiman, M.Pd., Dekan Fak Tarbiyah Unida Gontor yang juga menjabat sebagai Wasekjen FKPM dan KH. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., Sekjen FPAG dan Pimpinan PM Tazakka sebagai pemateri lainnya. 

KH. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D. selaku tuan rumah menyampaikan rasa bahagia dan bangga dengan kehadiran para kiai pengasuh pesantren alumni di Tazakka. Menurutnya, tajammu seperti ini perlu ditradisikan minimal tiap dua bulan sekali. 

Melalui tajammu seperti ini diharapkan terjadi komunikasi, koordinasi dan pada gilirannya kolaborasi antar pesantren.

Bahkan, dalam obrolan dengan beberapa pengasuh pesantren sebelum acara, perlu adanya pertemuan antar pesantren di level kedua, yaitu level para Wakil Pengasuh dan Direktur KMI untuk berdiskusi dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 

Sebagai keynote speaker, Kiai Habib Chirzin memberikan materi tentang falsafah dan nilai-nilai fundamental pendidikan KMI. 

Gontor memiliki empat sintesa, yaitu: Al-Azhar, Santiniketan, Syanggit dan Aligarh, semuanya berada di luar negeri. Ini menunjukkan visi internasional yang sangat jauh melampaui zamannya dari para pendiri Gontor kala itu. 

Selain itu, menurut Kiai Habib, Gontor lalu membekali para santrinya dengan kompetensi internasional yaitu kemampuan berbahasa Arab dan Inggris. Kedua bahasa ini menjadi bahasa komunikasi kepada dunia internasional.  

Setelah Dzuhur berjamaah dan makan siang, acara dilanjutkan dengan pembahasan peluang dan tantangan pesantren pasca lahirnya UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 yang disampaikan oleh Dr. Agus Budiman, M.Pd., Wasekjen Forum Komunikasi Pesantren Muadalah.

Agus menghimbau semua pesantren alumni Gontor untuk bergabung dalam barisan pesantren muadalah. 

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan tajammu' di area Taman Cordova sembari menikmati hidangan sate kambing dan buah durian. Nampak bahwa para peserta sangat menikmati hidangan yang disajikan ditambah guyub rukun mereka dalam obrolan ringan sesama alumni.

photo
Para kiai pesantren alumni Gontor (FPAG) berkumpul di Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah. - (Tazakka)

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement