Ahad 25 Dec 2022 07:14 WIB

Menjaga Lisan

Perkataan yang baik dan permintaan maaf lebih baik.

Jaga Lisan. Ilustrasi
Foto: AP/Maya Alleruzzo
Jaga Lisan. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,Suatu hari, ada seorang kekasih Allah bernama Syekh Makinuddin al-Asmar. Kekasih Allah ini mendapatkan rezeki penuh berkah dari wasilah profesinya sebagai tukang jahit. Setiap hari dia sibuk mengukur bahan dan mencocokkannya dengan postur badan pembeli. Perkataan yang keluar dari lisannya adalah yang menyejukkan hati pelanggan sehingga mereka tertarik untuk menjahit baju di sana lagi dan lagi. Hasil yang didapat dari menjahit dimanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ada satu hal lain yang dia lakukan setiap hari, yaitu mengingat kembali apa yang pernah ia katakan. Jika yang dikatakannya adalah hal baik, dia akan memuji Allah. Alhamdulillah.Namun, jika dia mengingat ada perkataan tak pantas, apalagi sampai menyakiti hati orang lain, dia akan beristighfar, bahkan menyam- bangi orang tersebut dan meminta maaf. Kisah Syekh al-Asmar ini tertulis dalam kitab karangan Ibnu Athaillah as-Sakandari berjudul Tajul 'Arus Al-Hawy li Tahdzibin Nufus.

Baca Juga

Satu pelajaran berharga dari kisah hidup di atas adalah kita harus pandai-pandai men- jaga mulut dari dua hal. Pertama, adalah dari makanan yang dilarang agama. Maksudnya adalah makanan dan minuman yang sudah jelas disebut haram, seperti hewan tertentu, juga minuman yang memabukkan. Lainnya adalah makanan yang diperoleh dengan cara maksiat, misalkan makanan yang dibeli dari hasil kejahatan. Juga makanan yang tak jelas asal usulnya, apakah itu dari yang haram atau sebaliknya, alias syubhat.

Bahkan, bukan hanya makanan. Apa yang bersentuhan dengan diri kita, seperti pakaian, rumah dengan segala perabotnya, kendaraan, kacamata, dan banyak lagi, yang ada di sekitar kita. Kalau diperoleh dengan cara maksiat atau tak jelas statusnya alias syubhat, tinggalkanlah.Sebab, itu semua akan menjauhkan kita dari Allah.

 

Sebanyak apa pun ibadah yang kita lakukan kalau ada makanan haram masuk ke dalam badan, Allah akan mencampakkan kita. Sesering apa pun berpuasa, kalau busana yang dikenakan tak jelas statusnya, Allah tak memeduli- kan ibadah tersebut.

Pelajaran kedua dari al-Asmar adalah ten-ang menjaga lisan. Kesibukannya melayani pelanggan adalah upaya dia menjaga lisan dari perkataan yang tak baik. Dia tak ingin lisannya membicarakan hal yang tak bermanfaat, apalagi keburukan orang lain. Dia sangat berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

Saking pentingnya menjaga lisan ini, Allah menjelaskan, perkataan yang baik dan permintaan maaf lebih baik daripada bersedekah yang disertakan keburukan (al-Baqarah ayat 263).

Diri kita sendiri belum tentu mampu me- ngendalikan lisan sepenuhnya. Karena, bisa jadi ada silat lidah yang didorong amarah dan syahwat sehingga keluarlah ungkapan yang menyinggung hati orang lain, bahkan kata tak pantas.

Kedekatan dengan Allah adalah jalan untuk mengendalikan lisan dari keburukan. Juga upaya m

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement